Seorang pakar terkemuka asal Tiongkok memberikan peringatan keras terkait narasi penurunan kekuatan Amerika Serikat di panggung global. Menurutnya, meskipun saat ini AS sedang mengalami fase kemunduran dalam berbagai aspek, menganggap bahwa negara tersebut akan segera jatuh atau runtuh adalah sebuah kesalahan fatal yang dapat memicu konsekuensi serius bagi stabilitas geopolitik dunia.
Zheng Yongnian, Dekan Sekolah Kebijakan Publik di Chinese University of Hong Kong, Shenzhen, menegaskan bahwa Amerika Serikat saat ini masih berstatus sebagai hegemon global. Meskipun pengaruhnya secara relatif terus menurun, posisi tersebut belum bisa digantikan oleh negara atau kekuatan lain mana pun di dunia saat ini. Ia menekankan bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar antara kondisi 'sedang menurun' dengan kondisi 'tergantikan' sebagai kekuatan dominan.
Dalam wawancara eksklusif bersama Greater Bay Area Review, Zheng menyoroti bahwa spekulasi mengenai kapan Amerika Serikat akan tersalip oleh kekuatan lain masih bersifat hipotetis. Ia berpendapat bahwa dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia tetap menjadi pilar kekuatan ekonomi yang sulit digoyahkan dalam jangka pendek, memberikan AS fleksibilitas finansial yang tidak dimiliki negara lain.
Selain kekuatan ekonomi, Zheng juga menunjuk pada keunggulan militer Amerika Serikat yang masih tak tertandingi di tingkat global. Kapabilitas militer ini menjadi instrumen proyeksi kekuatan yang sangat vital dalam menjaga status hegemoninya. Kesenjangan teknologi, terutama dalam sektor-sektor strategis dan teknologi masa depan, juga disebut sebagai faktor yang membuat AS tetap berada di posisi terdepan dibandingkan rival-rivalnya.
Di sisi lain, data persepsi publik menunjukkan adanya pergeseran tren yang cukup signifikan. Berdasarkan laporan terbaru dari Gallup, tingkat persetujuan global terhadap kepemimpinan Tiongkok untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir berhasil melampaui Amerika Serikat. Angka persetujuan terhadap kepemimpinan AS tercatat merosot ke posisi 31 persen, sementara Tiongkok perlahan merangkak naik mencapai 36 persen.
Zheng menyimpulkan bahwa meskipun persepsi publik mungkin berubah, realitas geopolitik dan ekonomi global tidak serta merta mengikuti sentimen tersebut. Ia mengingatkan para pengambil kebijakan agar tidak terjebak dalam euforia penurunan AS, melainkan harus tetap bersikap realistis dan pragmatis dalam membaca dinamika kekuatan global yang sangat kompleks dan saling ketergantungan di era modern ini.