Wu Xinbo, Dekan Institute of International Studies di Fudan University, Shanghai, menyoroti perubahan signifikan dalam lanskap geopolitik global. Sebagai salah satu peneliti Tiongkok paling terkemuka yang fokus pada kebijakan Amerika Serikat, Wu menilai bahwa era dominasi mutlak Washington di panggung dunia kini tengah memasuki fase senjakala. Analisis ini muncul di tengah momentum perayaan hari jadi Amerika Serikat yang ke-250, sebuah titik balik yang memicu refleksi mendalam mengenai arah kebijakan luar negeri negara tersebut di masa depan.
Dalam pandangan Wu, pergeseran kebijakan luar negeri AS tidak hanya mencerminkan perubahan internal domestik, tetapi juga respons terhadap kebangkitan kekuatan global baru, terutama Tiongkok. Ia mencatat bahwa dinamika hubungan antara kedua negara adidaya ini telah mengalami transformasi struktural yang mendalam. Kebijakan yang dulunya berbasis pada keterlibatan (engagement) kini telah bergeser ke arah persaingan strategis yang semakin ketat, yang berdampak pada stabilitas sistem internasional secara keseluruhan.
Salah satu poin krusial yang diangkat oleh Wu adalah bagaimana kebijakan luar negeri AS kini lebih banyak didorong oleh keinginan untuk mempertahankan hegemoni daripada mencari titik temu atau kerjasama global. Menurutnya, pendekatan ini justru mempercepat perpecahan di antara aliansi tradisional AS dan memicu negara-negara lain untuk mencari alternatif kemitraan strategis yang lebih inklusif. Hal ini menciptakan polarisasi yang semakin nyata di berbagai kawasan.
Wu juga menyoroti bahwa tantangan terbesar bagi AS dalam mempertahankan posisinya bukan sekadar kekuatan militer atau ekonomi, melainkan kemampuan untuk beradaptasi dengan dunia yang semakin multipolar. Ia berargumen bahwa ketidakmampuan Washington untuk memahami kebutuhan negara berkembang dan ketergantungan pada pendekatan unilateralisme telah melemahkan pengaruh lunaknya (soft power) di mata dunia internasional.
Menatap masa depan, Wu Xinbo menekankan bahwa hubungan AS-Tiongkok akan terus diwarnai oleh ketegangan yang bersifat jangka panjang. Namun, ia juga memberikan catatan bahwa keberhasilan AS di masa depan akan sangat bergantung pada bagaimana negara tersebut mendefinisikan kembali perannya di tengah dunia yang tidak lagi berpusat pada satu poros kekuatan saja. Kesadaran akan keterbatasan kekuatan sendiri menjadi kunci bagi keberlangsungan stabilitas global.
Analisis ini memberikan perspektif penting bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dalam menavigasi hubungan diplomatik di tengah rivalitas dua raksasa ekonomi. Bagi Tiongkok, ini adalah sinyal bahwa mereka harus lebih siap mengambil peran kepemimpinan yang lebih besar, sementara bagi AS, ini adalah peringatan akan perlunya reevaluasi strategi agar tetap relevan dalam tatanan dunia yang terus berubah secara dinamis.