Legenda sepak bola Korea Selatan, Park Ji-sung, melontarkan kritik keras terhadap performa tim nasional negaranya setelah menelan kekalahan 0-1 dari Afrika Selatan dalam ajang Piala Dunia. Hasil negatif ini memicu kekhawatiran mendalam bagi mantan gelandang Manchester United tersebut, yang melihat adanya pola permainan yang tidak berkembang dan minimnya visi taktis di atas lapangan.
Dalam komentarnya sebagai komentator televisi, Park menyoroti ketiadaan rencana serangan yang jelas dari skuad asuhan pelatih mereka. Menurutnya, masalah fundamental ini telah menghantui Korea Selatan sepanjang turnamen berlangsung. Ia menegaskan bahwa ada aspek-aspek krusial dalam persiapan tim yang terabaikan, sehingga berdampak langsung pada ketajaman lini depan saat menghadapi lawan.
Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena sang kapten, Son Heung-min, justru memulai pertandingan dari bangku cadangan. Meskipun secara matematis Korea Selatan masih memiliki peluang untuk melaju ke babak selanjutnya melalui jalur peringkat ketiga terbaik, Park mengaku tidak terlalu optimistis dengan masa depan tim di turnamen ini jika permainan tidak segera diperbaiki secara drastis.
Park secara gamblang membandingkan kondisi tim saat ini dengan kegagalan memalukan Korea Selatan pada Piala Dunia 2014. Kala itu, tim nasional Korea Selatan harus tersingkir lebih awal di fase grup setelah hanya mengoleksi satu kali imbang dan dua kekalahan. Baginya, situasi yang terjadi saat ini merupakan pengulangan dari kesalahan masa lalu yang seharusnya sudah dipelajari.
Lebih lanjut, Park menyayangkan bahwa waktu persiapan yang panjang pasca-Piala Dunia 2014 tidak dimanfaatkan dengan maksimal untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Ia merasa bahwa proses persiapan dan hasil yang diraih saat ini menunjukkan adanya stagnasi dalam pengembangan taktik dan mentalitas pemain yang seharusnya mengalami kemajuan signifikan dibandingkan satu dekade lalu.
Sebagai sosok yang pernah membawa Korea Selatan menembus semifinal Piala Dunia 2002, Park merasa sedih melihat penurunan kualitas permainan timnya. Ia menutup pernyataannya dengan keraguan besar mengenai kemampuan tim untuk tampil kompetitif di fase gugur. Menurutnya, dengan level permainan yang ditunjukkan saat ini, sangat sulit bagi tim untuk memberikan perlawanan berarti saat menghadapi tim-tim besar lainnya di panggung internasional.