Internasional

Mampukah Rudal Tua DF-15B China Menembus Pertahanan Modern?

Mampukah Rudal Tua DF-15B China Menembus Pertahanan Modern?

Ringkasan

  • Analisis militer menunjukkan rudal tua DF-15B China dengan teknologi MRV biconic mampu menembus sistem pertahanan udara modern seperti Patriot dan THAAD.

Analisis terbaru dari para pengamat militer mengungkapkan bahwa rudal jarak pendek Dongfeng-15B (DF-15B) milik China mungkin memiliki kemampuan yang jauh lebih signifikan dalam menembus sistem pertahanan udara modern dibandingkan perkiraan sebelumnya. Temuan ini muncul setelah evaluasi mendalam terhadap dinamika konflik di Timur Tengah yang melibatkan penggunaan teknologi rudal serupa.

Sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal Ordnance Science and Technology menyoroti bahwa rudal dengan kendaraan masuk kembali biconic (biconic manoeuvring re-entry vehicles atau MRV) mampu mencapai efektivitas penetrasi yang mendekati performa proyektil hipersonik. Teknologi ini memungkinkan rudal untuk melakukan manuver saat memasuki atmosfer, sehingga menyulitkan sistem pertahanan tradisional untuk melakukan intersepsi secara akurat.

Artikel tersebut, yang ditulis oleh Ma Lihua, merujuk pada klaim Iran bahwa rudal jarak pendek mereka yang dilengkapi dengan MRV tipe biconic berhasil menembus jaringan pertahanan rudal Amerika Serikat di pangkalan-pangkalan strategis di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain. Keberhasilan ini memicu diskusi serius di kalangan ahli militer mengenai relevansi teknologi rudal yang lebih tua jika dimodifikasi dengan sistem manuver modern.

Dalam konteks China, DF-15B yang selama ini dianggap sebagai aset yang mulai menua, kini dilihat kembali sebagai ancaman potensial yang mampu menantang dominasi sistem pertahanan udara berbasis Patriot dan Terminal High Altitude Area Defence (THAAD). Kemampuan manuver pada fase terminal menjadi faktor kunci yang mengubah kalkulasi strategis di medan perang.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa rudal Iran seperti Thunder-500 dan Fattah-1 telah menunjukkan kemampuan serupa sejak serangkaian serangan yang terjadi pada Februari lalu. Penggunaan teknologi ini di lapangan membuktikan bahwa sistem pertahanan udara canggih buatan Amerika Serikat sekalipun memiliki keterbatasan dalam menghadapi proyektil yang mampu bermanuver secara dinamis.

Kesimpulan dari analisis ini menekankan bahwa pengembangan teknologi rudal tidak selalu harus bergantung pada sistem hipersonik yang sangat mahal. Dengan mengintegrasikan MRV biconic pada platform rudal yang ada, negara-negara dapat meningkatkan daya gentar strategis mereka secara signifikan. Hal ini menjadi peringatan bagi operator sistem pertahanan dunia untuk terus memperbarui teknologi deteksi dan intersepsi mereka guna mengantisipasi ancaman yang terus berevolusi.

Mengapa Ini Penting

Perkembangan ini menunjukkan bahwa teknologi lama yang dimodifikasi dengan sistem manuver canggih dapat mengancam sistem pertahanan udara standar global. Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat penting akan perlunya memperkuat sistem pertahanan udara nasional dengan teknologi yang mampu mendeteksi proyektil bermanuver di tengah dinamika keamanan kawasan Indo-Pasifik yang kian kompetitif.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit