Internasional

Dokter Jerman Akui Bunuh 12 Pasien dalam Persidangan Kasus Besar

Dokter Jerman Akui Bunuh 12 Pasien dalam Persidangan Kasus Besar

Ringkasan

  • Seorang dokter spesialis paliatif di Jerman mengakui telah membunuh 12 pasiennya setelah setahun menjalani persidangan di Berlin.

Seorang dokter spesialis perawatan paliatif di Jerman akhirnya mengakui telah membunuh 12 pasiennya di hadapan Pengadilan Regional Berlin pada Kamis lalu. Pengakuan ini disampaikan hampir setahun setelah persidangan kasus profil tinggi ini dimulai, memberikan titik balik yang signifikan dalam proses hukum yang menyita perhatian publik internasional tersebut.

Dokter berusia 40 tahun ini sebelumnya menghadapi dakwaan atas pembunuhan terhadap total 15 orang pasien, yang terdiri dari 12 wanita dan tiga pria, dalam kurun waktu antara September 2021 hingga Juli 2024. Para korban yang menjadi target aksi keji ini berada dalam rentang usia yang cukup luas, yakni antara 25 hingga 87 tahun.

Dalam dakwaannya, jaksa penuntut umum memaparkan bahwa terdakwa diduga sengaja memberikan campuran obat-obatan mematikan kepada para korbannya. Tidak hanya itu, jaksa juga menduga bahwa pelaku sempat melakukan tindakan pembakaran di beberapa lokasi kejadian sebagai upaya untuk menutupi jejak kejahatannya dan menghilangkan bukti-bukti medis yang ada.

Kasus ini tampaknya masih akan terus berkembang. Saat ini, pihak kejaksaan sedang melakukan penyelidikan mendalam terhadap puluhan kasus mencurigakan lainnya yang diduga memiliki keterkaitan dengan terdakwa, yang berlangsung secara paralel dengan persidangan utama yang tengah berjalan di Berlin.

Setelah 54 hari persidangan yang dimulai sejak Juli 2025, terdakwa akhirnya memberikan pernyataan resmi selama 30 menit. Dalam kesempatan tersebut, ia mengakui perbuatannya terhadap 12 korban. Ia menyatakan bahwa kini dirinya baru mampu menjelaskan tindakannya dan sepenuhnya menerima tanggung jawab atas perbuatan yang telah ia lakukan.

Di akhir pernyataannya, terdakwa menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban, keluarga besarnya sendiri, serta rekan-rekan sejawatnya di dunia medis. Ia mengakui rasa penyesalan mendalam atas penderitaan luar biasa yang telah ia timbulkan kepada para pasien yang seharusnya ia rawat dengan sepenuh hati.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi pengawasan etika profesi medis dan sistem keamanan di fasilitas kesehatan. Bagi Indonesia, peristiwa ini menekankan pentingnya audit berkala terhadap pemberian obat-obatan terlarang serta penguatan sistem pengawasan internal di rumah sakit untuk melindungi keselamatan nyawa pasien.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
2 menit