Internasional

Pasangan Warga Inggris Selamat dari Jurang setelah Kebakaran Hutan Mematikan di Spanyol

Ringkasan

  • Pasangan warga Inggris ditemukan luka bakar parah di jurang saat kebakaran hutan di Almeria.
  • Kritik atas sistem peringatan dini muncul.

Sebuah pasangan warga Inggris ditemukan dalam kondisi kritis di dasar sebuah jurang di provinsi Almeria, Spanyol, setelah terjebak dalam kebakaran hutan yang mematikan pada Kamis lalu. Menurut laporan media lokal, keduanya ditemukan dengan luka bakar parah menutupi 40% tubuh dan dalam keadaan setengah sadar oleh petugas Civil Guard yang melakukan pencarian penyintas di dekat desa Bédar pada Jumat dini hari. Peristiwa ini menambah daftar tragedi kebakaran hutan terburuk dalam sejarah Spanyol.

Kebakaran yang melanda wilayah selatan Spanyol tersebut menyebar dengan sangat cepat akibat gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa selatan musim panas ini. Otoritas setempat melaporkan bahwa total 12 orang meninggal dunia, termasuk empat korban yang dipercaya merupakan warga Inggris, serta sekitar 7.000 hektare lahan hangus terbakar. Hingga saat ini, identitas resmi dari seluruh korban jiwa belum diumumkan secara terbuka.

Operasi penyelamatan pasangan tersebut menjadi sorotan karena keberhasilan tim menemukan mereka di tengah kondisi gelap dan asap pekat. Sersan Pedro Barre dari Civil Guard menceritakan bahwa tim mendengar teriakan minta tolong yang samar. "Seiring pengalaman, insting mengatakan untuk mencari sekali lagi," ujarnya kepada stasiun penyiaran TVE. Tim kemudian menuruni lereng bukit dan menemukan pasangan itu dalam kondisi kritis. Rekan penyelamat, Rafael Zea, menyebut panggilan minta tolong tersebut sebagai upaya titanik mengingat luka yang mereka derita.

Pada Minggu, pemerintah daerah Andalusia menyatakan bahwa kondisi yang lebih mendukung memungkinkan petugas pemadam mendapatkan kendali atas api, sehingga status siaga diturunkan. Namun demikian, dari hampir 1.500 warga yang dievakuasi, baru sekitar 600 orang diizinkan kembali ke rumah mereka. Puluhan warga berkumpul di sebuah bundaran jalan di bawah desa Bédar dengan harapan dapat segera mengecek kondisi properti mereka yang mungkin telah hangus.

Di antara warga asing yang menunggu dengan cemas adalah Mike dan Belinda Lithgow dari Cornwall, Inggris, yang memiliki properti liburan di dekat lokasi. Sejak kebakaran melanda, pasangan ini terpaksa tidur di camper van bersama anjing mereka, Rocket. Mereka diberikan jendela waktu satu jam pada Minggu untuk memeriksa rumah dan berharap bangunan tersebut masih berdiri karena asap condong ke sisi lain gunung saat mereka mengungsi. Ketidakpastian seperti ini mencerminkan dampak psikologis yang dialami banyak penduduk asing di kawasan tersebut.

Kritik tajam muncul terkait sistem peringatan bencana. Emma Mitchell, salah satu warga yang menunggu, membantah pernyataan otoritas bahwa sebagian korban tidak mengikuti rute evakuasi yang ditetapkan. "Kami tinggal di sini tiga tahun penuh dan tidak pernah ada informasi tentang jalan evakuasi khusus jika terjadi kebakaran," tegasnya. Ia juga menyesalkan tidak dikirimkannya peringatan melalui pesan singkat ke seluruh ponsel di area tersebut, layaknya sistem peringatan gempa, karena di Bédar hanya ada sedikit petugas resmi.

Kontroversi semakin meluas ketika Thomas-Wolf Verdonckt, putra dari warga Belgia yang tewas, membantah klaim bahwa ayahnya dan korban lain mengabaikan anjuran untuk berlindung di tempat aman. Dalam wawancara dengan Reuters, Thomas menuturkan bahwa ia sempat bertelepon dengan ayahnya, Stanislas Verdonckt (63), saat api mendekat. Menurutnya, tidak ada peringatan resmi atau perintah evakuasi dari layanan darurat. Mereka baru menyadari bahaya ketika melihat sendiri api, namun jalur utama sudah tidak bisa dilalui sehingga terpaksa mengambil jalur lain. "Itu di luar kendali mereka," kata Thomas, menilai tidak adil jika korban disalahkan.

Wali Kota Bédar, Angel Collado, sebelumnya mengatakan telah mengimbau kelompok termasuk Stanislas untuk berlindung di tempat yang aman. Sementara itu, pejabat daerah beralasan tidak mengeluarkan alert pada Kamis malam karena khawatir pesan mencapai area terlalu luas dan mempersulit evakuasi. Namun, polisi mengklaim telah mendatangi rumah-rumah atau menelepon warga. Ketidakkonsistenan komunikasi ini memicu debat tentang efektivitas metode tradisional di tengah bencana modern.

Kejadian ini terjadi di tengah gelombang panas berkelanjutan dengan suhu sekitar 40 derajat Celsius yang memicu kebakaran di seluruh Eropa selatan, terutama Prancis, Portugal, dan Spanyol. Wali Kota Los Gallardos, Francisco Miguel Reyes, menyebut situasi seperti bom jatuh. Catatan sejarah menunjukkan kebakaran ini termasuk mematikan; pada 1984, 20 orang tewas di La Gomera, dan 1979 menewaskan 21 orang termasuk sembilan anak. Dari sudut pandang teknologi kebencanaan, tragedi Spanyol mengingatkan negara rawan bencana seperti Indonesia akan urgensi sistem peringatan dini berbasis seluler yang terintegrasi dan akurat guna menyelamatkan nyawa, termasuk wisatawan asing.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menyoroti pentingnya sistem peringatan dini bencana berbasis seluler seperti Cell Broadcast yang belum merata di banyak negara. Kegagalan otoritas Spanyol memberikan notifikasi massal menunjukkan bahwa metode kunjungan door-to-door tidak memadai di era digital. Bagi industri teknologi Indonesia, pengembangan infrastruktur alert otomatis dan integrasi data cuaca ekstrem menjadi peluang strategis untuk meningkatkan ketahanan bencana. Pelajaran ini krusial mengingat destinasi pariwisata tanah air juga rawan kebakaran hutan dan perlu melindungi wisatawan asing.

Sumber Asli
BBC News
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit