Internasional

Kisah Pasangan Lansia Tiongkok Hidup Hemat demi Donasikan Rp11 Miliar untuk Anak Sakit

Kisah Pasangan Lansia Tiongkok Hidup Hemat demi Donasikan Rp11 Miliar untuk Anak Sakit

Ringkasan

  • Sepasang suami istri lansia di Tiongkok menyumbangkan seluruh tabungan hidup mereka sebesar Rp11 miliar untuk membantu ratusan anak penderita penyakit jantung bawaan.

Kisah inspiratif datang dari pasangan lansia di Tiongkok yang memilih menjalani hidup dengan sangat sederhana demi menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi anak-anak yang membutuhkan. Pasangan suami istri yang tidak memiliki anak ini berhasil mengumpulkan kekayaan sebesar lima juta yuan atau sekitar Rp11 miliar (setara US$735.000) untuk membiayai pengobatan 455 anak yang menderita penyakit jantung bawaan.

Kisah luar biasa ini pertama kali terungkap dalam sebuah pameran amal yang diselenggarakan di Shanghai pada akhir bulan lalu. Berdasarkan laporan dari media The Paper, pasangan tersebut bernama Du Yingrong dan Lu Suying. Keduanya merupakan pensiunan dari sebuah perguruan tinggi di Shanghai, di mana Du dulunya berprofesi sebagai guru, sementara Lu adalah seorang dokter.

Kehidupan mereka jauh dari kata mewah. Meskipun memiliki tabungan yang cukup besar, pasangan ini dikenal sangat hemat dalam kesehariannya. Mereka bahkan terbiasa berbagi porsi makanan seharga 2,5 dolar AS untuk berdua. Kesederhanaan mereka mencerminkan prinsip hidup yang mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kenyamanan pribadi, sebuah sikap yang jarang ditemui di tengah gaya hidup modern yang konsumtif.

Keputusan untuk berdonasi bermula pada awal tahun 2018, ketika Du melihat sebuah poster di depan Rumah Sakit Kardiotoraks Shanghai Yoda. Poster tersebut berisi seruan publik untuk membantu anak-anak yang mengidap penyakit jantung bawaan. Tergerak oleh rasa empati yang mendalam, pasangan ini seketika menyumbangkan setengah juta yuan untuk membantu 10 anak pertama yang menjadi target program tersebut.

Tidak berhenti di situ, pasangan ini kemudian memutuskan untuk menyumbangkan sisa kekayaan mereka sebesar 4,5 juta yuan. Langkah besar ini sempat membuat staf rumah sakit yang menangani proyek amal tersebut merasa khawatir. Mengingat kondisi rumah pasangan tersebut yang sudah tua dan tampak usang, staf tersebut sempat menyarankan agar mereka tetap menyimpan sebagian dana untuk kebutuhan hari tua mereka sendiri.

Namun, keteguhan hati Du dan Lu tidak tergoyahkan. Dalam sebuah percakapan, Du mengungkapkan bahwa mereka tidak lagi memiliki banyak waktu dan merasa cukup dengan uang pensiun yang mereka terima. Du Yingrong meninggal dunia pada tahun 2018 di usia 81 tahun, disusul oleh istrinya, Lu Suying, yang wafat tahun lalu pada usia 92 tahun. Warisan kasih sayang yang mereka tinggalkan kini menjadi harapan baru bagi ratusan keluarga yang anak-anaknya mendapatkan kesempatan hidup lebih baik.

Mengapa Ini Penting

Kisah ini menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya budaya filantropi dan gaya hidup hemat untuk tujuan sosial yang lebih besar. Di tengah fenomena gaya hidup konsumtif, aksi pasangan ini menunjukkan bahwa dampak sosial yang masif bisa dicapai melalui dedikasi pribadi tanpa harus menunggu kekayaan berlebih.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit