Indeks saham Asia bergerak fluktuatif pada Kamis (30/7/2024) setelah pekan yang penuh gejolak. Kekhawatiran terhadap realisasi keuntungan dari investasi masif di teknologi kecerdasan buatan (AI) memicu aksi jual panjang, terutama di pasar saham Korea Selatan. Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat yang kembali menahan suku bunga acuan semakin menambah kebingungan investor.
Kebijakan moneter The Fed yang tidak memberikan kejelasan arah menjadi sentimen negatif utama. Keputusan untuk mempertahankan suku bunga disertai dengan nada bicara pimpinan bank sentral yang tajam namun tanpa petunjuk langkah pasti. Ketidakpastian ini membuat pasar obligasi, khususnya surat utang jangka panjang AS, tertekan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun merangkak naik ke level tertinggi sejak Juni 2007, mencapai 5,2273 persen di sesi perdagangan New York.
Gejolak terparah terjadi di Korea Selatan. Indeks KOSPI merosot tajam dan berpotensi mencatat penurunan mingguan hingga 15 persen. Sell-off besar-besaran menghapus lebih dari 2 triliun dolar AS dari kapitalisasi pasar. Kejadian ini memaksa Menteri Keuangan Koo Yun-cheol meminta maaf terkait peluncuran produk ETF bertujuan leverage (single-stock leveraged ETFs). Pemerintah Korea kemudian mengumumkan langkah-langkah stabilisasi pasar.
Di balik gejolak tersebut, investor tengah mengevaluasi ulang kisah sukses investasi di sektor AI. Laporan keuangan kuartal kedua dari dua raksasa teknologi dunia menunjukkan kontras yang mencolok. Microsoft meyakinkan investor bahwa arus kasnya tetap kuat meski menggelontorkan belanja besar untuk infrastruktur AI. Sebaliknya, Meta Platforms harus menelan kenyataan pahit dengan free cash flow (arus kas bebas) anjlok hingga 91 persen pada kuartal yang sama. Kontras ini memicu kekhawatiran bahwa tidak semua perusahaan akan menuai hasil setimpal dari perlombaan AI.
Di tengah badai, secercah optimisme muncul dari pabrikan chip raksasa Samsung Electronics. Laba operasionalnya melonjak 19 kali lipat ke level rekor pada kuartal kedua. Hasil ini membantu meringankan sentimen investor yang sebelumnya terlalu pesimis. Namun, analis memperingatkan bahwa kondisi pasar masih sangat rentan terhadap berbagai faktor eksternal.
"Ketidakpastian kebijakan moneter AS, pergerakan curam kurva imbal hasil Treasury, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dan kekhawatiran berlanjut tentang industri semikonduktor dan sektor AI berarti pasar kemungkinan akan tetap bergejolak dalam waktu dekat," ujar Vasu Menon, Direktur Pelaksana Strategi Investasi OCBC. Ia menekankan bahwa beberapa indikator yang perlu diwaspadai adalah saldo margin pinjaman modal (margin balance) investor ritel di Taiwan dan Korea yang menurun.
Gina Kim, Manajer Portofolio Ekuitas Pasar Berkembang di Nordea Asset Management Singapore, berpendapat sebagian dari aksi jual ini bersifat irasional dan panik. "Mengingat tesis fundamental tetap utuh, memang ada elemen irasional seperti panik dalam aksi jual saat ini," katanya. Ia menambahkan bahwa tanda meredanya kepanikan akan terlihat ketika indikator seperti saldo margin di negara-negara tersebut mulai menunjukkan tren stabil.
Bagi investor Indonesia, gejolak pasar global ini memiliki beberapa implikasi langsung. Pertama, profil risiko portofolio investasi yang terkait saham-saham teknologi global atau reksadana asing meningkat. Investor perlu waspada terhadap volatilitas eksternal yang bisa berdampak melalui mekanisme portofolio global. Kedua, situasi ini bisa menjadi katalis bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan langkah kebijakan dengan lebih hati-hati, mengingat arus modal global yang mulai mencari aset aman (safe haven) dan potensi penguatan dolar AS jangka pendek.
Selain itu, kegagapan terhadap prospek nyata dari investasi AI memberikan pelajaran penting bagi ekosistem teknologi dan start-up di Indonesia. Hype atau euforia teknologi harus dibarengi dengan fondasi bisnis yang kuat dan ekspektasi realistis terhadap waktu pengembalian modal. Fenomena di Korea Selatan juga menjadi cermin bagi tren investasi ritel di Indonesia yang semakin aktif, khususnya pada instrumen-instrumen berisiko tinggi, untuk selalu mempertimbangkan profil risiko secara matang.
Proyeksi ke depan, pergerakan pasar akan sangat bergantung pada komunikasi selanjutnya dari The Fed dan data-data ekonomi AS. Apakah kenaikan imbal hasil obligasi akan terus berlanjut akan menjadi kunci. Sementara itu, investor akan terus menanti laporan keuangan kuartalan dari perusahaan-perusahaan teknologi lainnya untuk menilai apakah narasi pertumbuhan AI masih layak dipertahankan. Gejolak ini mengingatkan bahwa siklus teknologi besar selalu diwarnai fase ekspektasi berlebih dan koreksi menyehatkan.