Pasar saham global mengalami tekanan berulang kali seiring kenaikan curah harga minyak dan kembali naiknya imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam puluhan tahun. Ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran di Laut Arab memicu lonjakan energi hingga 10 persen dalam seminggu, menumbuhkan kekhawatiran inflasi yang lebih dalam dan berkelanjer.
Indeks-indeks saham di Asia — termasuk Tokyo, Seoul, Hong Kong, dan Sydney — turun tajam, sementara teknologi perusahaan yang bergantung pada suku bunga rendah terdampak paling keras. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk jangka 10 tahun mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan 2008, sementara Jepang melaporkan imbal hasil 10 tahunnya di ambang rekor 30 tahun terakhir.
Gelombang serangan silang ini muncul setelah berjam-jam diplomasi gagal, ketika Washington menyatakan ambisi untuk "menyekat secara ekonomi" terhadap rezim Iran. Penutupan efektif Selat Hormuz — jalur bagi sepertiga energi global — memicu ketidakpastian pasokan yang mendesak, sementara produsen energi mencari jalur alternatif yang mahal dan tidak pasti.
Para pelaku pasar kini menilai kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang, dengan peluang diperkirakan mencapai 70 persen. Fed Governor Michael Barr menegaskan bahwa keputusan akan sangat bergantung pada data inflasi dan lapangan kerja yang akan dirilis minggu ini.
Di Indonesia, dampaknya terasa tidak langsung namun signifikan. Kenaikan harga minyak global menekan nilai tukar rupiah dan menambah beban impor bahan bakar, sementara teknologi perusahaan ritel dan fintech yang berhutang dalam mata uang asing berisiko likuidasi lebih tinggi. Bank Indonesia perlu memantau tekanan inflasi impor dan menguatkan kebijakan moneter defensif.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa geopolitik energi tetap menjadi goncangan utama bagi pasar keuangan global, sementara kebijakan moneter sentral tidak dapat lagi bersikap netral. Setiap eskalasi baru berpotensi memicu siklus penguatan suku bunga yang lebih lama dari yang diperkirakan pasar.