Pasar saham Asia mengalami penurunan terburuk dalam beberapa bulan terakhir pada Selasa (24/6/2025). Indeks KOSPI Korea Selatan kolaps 10,2 persen, cukup parah hingga sistem circuit breaker harus diaktifkan selama 20 menit guna menghentikan sementara perdagangan. Ini merupakan aksi jual massal yang menghantam seluruh sektor teknologi di kawasan Asia Pasifik.
Penyebab utamanya berawal dari sebuah laporan media teknologi The Information yang menyebut bahwa perusahaan China, Shanghai Yuliangsheng, telah memulai produksi massal teknologi pembuatan chip. Teknologi ini selama ini didominasi oleh perusahaan Belanda, ASML, yang menguasai pasar mesin litografi ultraviolet ekstrem (EUV) — jantung dari fabrikasi chip canggih generasi terbaru. Kabar ini langsung mengirim sinyal alarm ke seluruh rantai pasok semikonduktor global.
Di Seoul, dua raksasa memori SK hynix dan Samsung Electronics masing-masing kehilangan nilai pasar sekitar 13 persen dalam satu sesi perdagangan. Kedua perusahaan ini sudah merosot hampir 50 persen dari level rekor tertinggi yang mereka capai bulan lalu. Indeks KOSPI secara keseluruhan kini telah turun lebih dari 30 persen dari puncaknya.
Di Tokyo, situasinya tak kalah buruk. Indeks Nikkei jatuh lebih dari 4 persen. Saham produsen memori flash Kioxia merosot paling tajam, yakni 18 persen. Sementara itu, dua perusahaan penting dalam ekosistem pembuatan chip — Advantest dan Tokyo Electron — masing-masing kehilangan 11 persen nilai sahamnya. Di Taipei, indeks Taiwan Weighted juga turun lebih dari 3 persen dengan TSMC, produsen chip terbesar dunia, ikut terkena imbas.
Sebelum kejatuhan pasar Asia, bursa Wall Street sudah lebih dulu memberikan sinyal peringatan. Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) turun 2,2 persen pada Senin (23/6). Saham SanDisk anjlok 11 persen, sementara Advanced Micro Devices (AMD) dan Nvidia masing-masing merosot sekitar 5 persen. Di Amsterdam, saham ASML sendiri juga terkoreksis lebih dari 8 persen.
Sebenarnya, kekhawatiran terhadap sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan sudah membara sejak beberapa pekan terakhir. Investor mulai mempertanyakan kapan investasi masif di infrastritas AI akan menghasilkan keuntungan nyata. Valuasi perusahaan teknologi yang sudah terlalu tinggi juga menjadi beban tersendiri. Laporan tentang terobosan teknologi chip China hanya menjadi pemicu yang mempercepat aksi jual besar-besaran.
Stephen Innes dari SPI Asset Management mencatat bahwa fundamental sektor semikonduktor secara teknis belum runtuh total. Permintaan memori bandwidth tinggi masih kuat, perusahaan hyperscaler masih menggelontorkan belanja modal, dan raksasa teknologi belum benar-benar menghentikan rencana investasi mereka. Namun, yang berubah drastis adalah kesediaan pasar untuk menghargai janji-janji masa depan dengan harga berapa pun. "Roda yang sama kini mulai menendang investor keluar dengan kecepatan tinggi," tulis Innes.
Keruntuhan harga saham teknologi ini juga menenggelamkan optimisme yang sempat muncul dari krisis Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran telah menahan diri dari serangan balasan selama tiga hari berturut-turut. Presiden Donald Trump menyatakan adanya "kemungkinan besar" kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Laporan menyebut Oman dan Iran berusaha merundingkan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur laut yang dilalui seperlima minyak dan LNG global.
Harga minyak langsung merespons. Minyak mentah acuan Brent kehilangan lebih dari 8 persen pada Senin, sementara WTI turun lebih dari 7 persen. Di awal perdagangan Asia Selasa, kedua patokan harga minyak masih turun hampir satu persen. Berita pelonggaran geopolitik ini seharusnya menjadi katalis positif, namun sentimen negatif sektor teknologi terlalu kuat untuk ditahan.
Kendati demikian, pasar Hong Kong menunjukkan pengecualian yang menarik. Saham-saham teknologi di bursa Hong Kong justru mengalami pembelian (buying) setelah paruh pertama tahun yang menyakitkan. Investor tampaknya melihat valuasi yang sudah terlalu murah sebagai peluang masuk, meskipun tren regional masih sangat bearish.
Ke depannya, pekan ini menjadi sangat krusial karena sejumlah emiten besar akan merilis laporan keuangan. SK hynix, Samsung, dan Kioxia dijadwalkan mengumumkan earnings, begitu pula empat raksasa teknologi Amerika Serikat: Microsoft, Meta (Facebook), Apple, dan Amazon. Hasil laporan keuangan ini akan menjadi penentu arah pasar selanjutnya.
Bagi Indonesia, gempa teknologi di pasar Asia ini memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, banyak investor domestik yang memiliki eksposur melalui reksa dana atau instrumen keuangan yang menyimpan aset saham semikonduktor global. Nilai portofolio mereka berpotensi terkoreksi dalam. Kedua, industri ponsel pintar dan perangkat elektronik Indonesia yang sangat bergantung pada pasokan chip dari Korea Selatan dan Taiwan bisa menghadapi dinamika harga baru. Jika produsen chip mengalami tekanan margin, mereka bisa menaikkan harga jual, yang pada akhirnya berdampak pada harga perangkat konsumen di Tanah Air.
Ketiga, narasi tentang terobosan teknologi chip China menambah dimensi baru dalam persaingan global. China yang selama ini terkena sanksi ekspor teknologi semikonduktor canggih dari Barat kini berupaya mandiri. Jika upaya ini berhasil secara masal, struktur harga dan rantai pasok global akan berubah secara fundamental. Indonesia sebagai salah satu pasar elektronik terbesar di Asia Tenggara perlu memantau perkembangan ini karena berpotensi menciptakan alternatif sumber pasokan chip di masa depan.