Konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran telah menyebabkan disrupsi paling signifikan dalam sektor pelayaran niaga sejak masa pandemi COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina. Sejak perang pecah pada akhir Februari lalu, perusahaan pelayaran global menghadapi serangkaian ancaman keamanan, mulai dari serangan terhadap kapal hingga lonjakan biaya operasional yang drastis akibat penundaan jadwal yang berkepanjangan.
Namun, setelah lebih dari empat bulan mengalami gejolak, para analis menilai bahwa dampak jangka panjang dari perang ini mungkin tidak sedrastis yang diperkirakan sebelumnya. Meskipun perusahaan pelayaran kini lebih berhati-hati dalam menghitung risiko dan mulai mendiversifikasi rantai pasok mereka, sifat perdagangan laut yang krusial membuat industri ini diprediksi akan kembali beroperasi seperti sedia kala dalam jangka panjang.
Kondisi ini terutama terlihat pada sektor pengiriman peti kemas. Berbeda dengan operator kapal tanker minyak dan gas yang sangat bergantung pada Selat Hormuz, perusahaan peti kemas memiliki fleksibilitas lebih besar. Mereka dapat mengalihkan rute kapal ke jalur yang lebih aman untuk menghindari konflik di kawasan tersebut, termasuk serangan dari kelompok Houthi di Laut Merah.
Industri pelayaran global dikenal memiliki ketahanan yang luar biasa terhadap krisis. Sebagai contoh, pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19 melanda, volume pengiriman peti kemas global hanya turun 1,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya menurut data BIMCO. Bahkan pada awal 2021, volume kargo global telah melampaui level pra-pandemi, sebuah pemulihan yang jauh lebih cepat dibandingkan sektor penerbangan komersial.
Pasca penandatanganan nota kesepahaman antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik pada 17 Juni, perusahaan pelayaran telah bergerak cepat untuk meningkatkan kapasitas armada mereka. Langkah ini diambil untuk menormalkan kembali arus logistik yang sempat terganggu akibat ketegangan militer di kawasan Teluk dan Laut Merah.
Data dari Xeneta menunjukkan bahwa kapasitas peti kemas di kawasan tersebut, yang sempat anjlok drastis hingga 74.000 TEU pada pertengahan Juni, kini telah kembali ke level normal pada beberapa rute utama. Pemulihan cepat ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku pasar bahwa rantai pasokan global sedang dalam masa transisi kembali ke stabilitas pasca-perang.