Paus Leo melakukan kunjungan bersejarah ke Pulau Lampedusa, Italia, pada hari Sabtu. Pulau ini dikenal sebagai titik masuk utama bagi para migran yang menempuh perjalanan berbahaya melintasi Laut Mediterania dari Afrika menuju Eropa. Kunjungan ini dianggap sebagai pesan simbolis yang tajam bagi para pemimpin di Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait kebijakan migrasi mereka.
Langkah Paus yang berasal dari Amerika Serikat ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan AS pada 4 Juli. Sebagai sosok yang kerap berselisih dengan pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai perlakuan terhadap migran, kehadiran Paus di garis depan krisis migrasi ini menekankan urgensi isu kemanusiaan yang sering kali terabaikan oleh kepentingan politik nasional.
Kunjungan ini berlangsung hanya dua pekan setelah Uni Eropa menyetujui aturan migrasi baru yang lebih ketat. Regulasi tersebut memberikan wewenang lebih luas bagi otoritas untuk melakukan penahanan migran, serta mengizinkan pembentukan pusat deportasi di luar wilayah blok Uni Eropa. Kebijakan ini menuai kritik dari berbagai kelompok hak asasi manusia yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap perlindungan pencari suaka.
Dalam kunjungannya, Paus Leo sempat berdoa di makam tanpa tanda bagi para korban kapal karam. Ia kemudian berdiri sendirian di garis pantai berbatu yang diterpa angin kencang, menatap ke arah laut lepas—lokasi di mana banyak kapal migran tenggelam dan hilang ditelan ombak dalam upaya mereka mencari penghidupan yang lebih layak.
Selain berdoa, Paus juga meluangkan waktu untuk berbincang dengan sebuah keluarga migran. Ia menggandeng tangan anak-anak keluarga tersebut dan berdiri bersama sang ibu yang sedang hamil di depan monumen 'Pintu Eropa', sebuah simbol dedikasi bagi mereka yang mempertaruhkan segalanya demi masa depan yang lebih baik di tanah asing.
Lahir di Chicago, Paus Leo telah menjadikan pembelaan terhadap hak-hak migran sebagai pilar utama masa kepemimpinannya, mengikuti jejak pendahulunya, Paus Fransiskus. Ia secara konsisten memuji mereka yang membantu kaum papa dan secara vokal menentang praktik deportasi massal yang kerap terjadi di Amerika Serikat, menegaskan bahwa martabat manusia harus melampaui kebijakan perbatasan.