Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa sejumlah tim kemanusiaan telah diterjunkan ke wilayah Al Muwasi, Khan Younis, untuk melakukan penilaian kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak serangan udara Israel pada Senin (29/6). Penilaian ini menjadi langkah krusial dalam memetakan bantuan logistik yang diperlukan pasca-serangan yang dilaporkan menelan korban jiwa seorang ibu dan bayi perempuannya.
Berdasarkan data awal yang dihimpun OCHA, serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur pengungsian. Sebanyak lebih dari 150 tenda pengungsi hancur total, sementara 250 tenda lainnya mengalami kerusakan signifikan. Para penyintas melaporkan bahwa pihak otoritas Israel sempat memberikan peringatan dini sebelum serangan terjadi, namun keterbatasan ruang gerak membuat evakuasi menjadi sangat menantang bagi para pengungsi.
Selain dampak fisik dari serangan udara, OCHA menyoroti krisis kesehatan yang mengkhawatirkan di Gaza. Dalam kurun waktu dua pekan, tercatat hampir 9.300 kasus cacar air yang tersebar di lebih dari 130 fasilitas kesehatan. Khan Younis menjadi wilayah dengan tingkat penularan tertinggi, yang dipicu oleh sanitasi buruk, kepadatan pengungsi yang ekstrem, serta minimnya akses terhadap air bersih.
Sebagai respons cepat, PBB bersama mitra kemanusiaannya telah mendistribusikan bantuan medis esensial, termasuk antibiotik, antihistamin, dan obat penurun demam. Upaya pencegahan meluasnya penyakit juga dilakukan melalui peningkatan distribusi air bersih menggunakan truk tangki, klorinasi rutin, serta disinfeksi fasilitas sanitasi umum guna memutus rantai penyebaran virus di lokasi pengungsian yang padat.
Di sisi lain, situasi di Yerusalem Timur turut memanas setelah pasukan Israel memasuki Pusat Pelatihan Kalandia, fasilitas pendidikan kejuruan tertua milik UNRWA. Meskipun tidak ada dokumen resmi yang diserahkan, otoritas Israel menuntut penutupan pusat pelatihan yang melayani ratusan murid dari keluarga kurang mampu di Tepi Barat tersebut. PBB mengecam keras tindakan ini sebagai pelanggaran terhadap kekebalan fasilitas internasional.
OCHA menegaskan bahwa respons kemanusiaan saat ini masih sangat terbatas dibandingkan dengan skala kebutuhan di lapangan. Badan tersebut mendesak komunitas internasional untuk memberikan pendanaan berkelanjutan dan menjamin akses tanpa hambatan bagi pekerja kemanusiaan. Tanpa dukungan sumber daya yang memadai, upaya untuk menekan angka kesakitan dan memberikan perlindungan bagi warga sipil di Gaza akan semakin sulit dicapai.