Internasional

PBB Sahkan Peta Afrika Baru, Akhiri Dominasi Proyeksi Mercator yang Bias

PBB Sahkan Peta Afrika Baru, Akhiri Dominasi Proyeksi Mercator yang Bias

Ringkasan

  • PBB resmi mengadopsi peta dunia baru berbasis proyeksi Equal Earth untuk menggantikan Mercator yang bias, meski Amerika Serikat menolak resolusi tersebut.

Majelis Umum PBB secara resmi mengadopsi resolusi untuk mengganti penggunaan proyeksi peta dunia Mercator yang telah berusia berabad-abad dengan desain Equal Earth yang lebih akurat. Keputusan ini diambil dalam sidang di New York setelah 164 negara memberikan suara dukungan, menandai pergeseran besar dalam cara dunia memandang geografi benua Afrika.

Perubahan ini dipicu oleh kampanye panjang yang menyoroti ketimpangan visual pada peta konvensional. Selama berabad-abad, dunia menggunakan proyeksi Gerardus Mercator yang cenderung mendistorsi ukuran wilayah. Dalam peta tersebut, benua yang berada di dekat khatulistiwa, termasuk Afrika, tampak jauh lebih kecil daripada ukuran aslinya, sementara wilayah lintang tinggi di utara terlihat sangat besar.

Ketidakakuratan ini bukan sekadar masalah estetika. Para ahli geografi dan aktivis telah lama menyebut fenomena ini sebagai kolonialisme kartografi. Distorsi tersebut dianggap memberikan dampak kognitif, pendidikan, hingga geopolitik yang merugikan negara-negara di selatan khatulistiwa dengan meminimalkan kehadiran fisik mereka dalam imajinasi global.

Sebagai contoh mencolok, peta Mercator sering menggambarkan Greenland memiliki ukuran yang hampir sama dengan Afrika. Padahal, secara faktual, benua Afrika memiliki luas 14 kali lipat lebih besar dibandingkan Greenland. Distorsi ini secara halus membentuk bias sistemik dalam prioritas pembangunan dan perdagangan internasional.

Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut, dengan alasan bahwa langkah ini dianggap berlebihan. Sementara itu, enam negara lainnya memilih untuk abstain dalam pemungutan suara tersebut. Usulan ini sendiri dipimpin oleh Togo atas mandat Uni Afrika yang telah lama menyuarakan ketidakadilan representasi kartografi.

Bagi Indonesia, transisi menuju peta yang lebih akurat memiliki urgensi tersendiri. Sebagai negara yang berada tepat di garis khatulistiwa, wilayah nusantara juga sering mengalami distorsi visual pada peta berbasis Mercator. Perubahan standar global ini diharapkan dapat memperbaiki persepsi ruang bagi siswa di sekolah hingga pengambilan kebijakan berbasis data geospasial.

Penggunaan proyeksi Equal Earth tahun 2018 menawarkan solusi visual yang menjaga proporsi luas wilayah secara lebih realistis. Dengan mengadopsi standar baru ini, PBB bertujuan menghilangkan bias sistemik yang selama ini memengaruhi kerangka pendidikan global. Langkah ini dipandang sebagai upaya dekolonisasi pengetahuan yang substansial.

Sejarah mencatat bahwa kritik terhadap Mercator bukanlah hal baru. Sebelumnya, sejarawan Arno Peters pada 1973 telah memperkenalkan proyeksi Gall-Peters sebagai alternatif. Namun, baru di era digital saat ini, dorongan dari masyarakat sipil melalui kampanye #CorrectTheMap mampu membawa perubahan di tingkat institusi internasional.

Uni Afrika secara resmi mendukung gerakan ini pada Agustus 2025, yang kemudian menjadi landasan bagi Togo untuk membawa isu ini ke forum PBB. Lebih dari 11.000 tanda tangan dikumpulkan melalui petisi daring, membuktikan bahwa kesadaran publik terhadap ketidakadilan peta telah meningkat tajam.

Para analis berpendapat bahwa pengesahan ini akan memicu perubahan pada buku teks sekolah, atlas digital, dan perangkat lunak pemetaan global dalam beberapa tahun ke depan. Industri teknologi pemetaan kini menghadapi tantangan untuk memperbarui basis data mereka guna menyesuaikan dengan standar Equal Earth yang disahkan PBB.

Langkah selanjutnya bagi negara anggota adalah mengintegrasikan peta baru ini ke dalam kurikulum pendidikan nasional masing-masing. Transisi ini diperkirakan tidak akan berlangsung instan, namun resolusi PBB memberikan legitimasi kuat bagi institusi pendidikan untuk meninggalkan standar lama yang bias.

Di masa depan, peta dunia tidak lagi sekadar alat navigasi, melainkan cerminan dari kesetaraan global. Dengan pengakuan atas ukuran asli Afrika, dunia diharapkan lebih memahami proporsi sebenarnya dari setiap benua, yang pada akhirnya akan memengaruhi cara pandang geopolitik global yang lebih adil dan proporsional.

Mengapa Ini Penting

Keputusan PBB ini merupakan tonggak sejarah dalam dekolonisasi ilmu pengetahuan yang berdampak langsung pada cara pandang dunia terhadap negara-negara khatulistiwa, termasuk Indonesia. Secara praktis, perubahan standar peta akan memaksa penyedia platform digital global dan kurikulum pendidikan untuk merombak visualisasi data geospasial mereka. Bagi Indonesia, hal ini penting untuk mengoreksi bias persepsi ruang yang selama ini membuat wilayah kita tampak lebih kecil dari realitas geografis sebenarnya.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "PBB Sahkan Peta Afrika Baru, Akhiri Dominasi Proyeksi Mercator yang Bias"?

PBB resmi mengadopsi peta dunia baru berbasis proyeksi Equal Earth untuk menggantikan Mercator yang bias, meski Amerika Serikat menolak resolusi tersebut.

Mengapa Internasional ini penting?

Keputusan PBB ini merupakan tonggak sejarah dalam dekolonisasi ilmu pengetahuan yang berdampak langsung pada cara pandang dunia terhadap negara-negara khatulistiwa, termasuk Indonesia. Secara praktis, perubahan standar peta akan memaksa penyedia platform digital global dan kurikulum pendidikan untuk merombak visualisasi data geospasial mereka. Bagi Indonesia, hal ini penting untuk mengoreksi bias

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
8 September 2026
Waktu Baca
4 menit