Internasional

PBB Tangguhkan Evakuasi Ribuan Pelaut di Selat Hormuz Pasca Serangan Proyektil

PBB Tangguhkan Evakuasi Ribuan Pelaut di Selat Hormuz Pasca Serangan Proyektil

Ringkasan

  • PBB melalui IMO menunda evakuasi 11.000 pelaut di Selat Hormuz menyusul serangan proyektil terhadap kapal kargo di perairan tersebut.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah naungan PBB secara resmi menangguhkan rencana evakuasi bagi lebih dari 11.000 pelaut yang terjebak di Selat Hormuz. Keputusan mendadak ini diambil setelah sebuah kapal kargo yang melintasi jalur perairan strategis tersebut dilaporkan terkena serangan proyektil misterius. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menyatakan bahwa meskipun sebagian kru telah berhasil dievakuasi, operasi lanjutan dihentikan hingga adanya jaminan keamanan yang memadai bagi seluruh pihak yang terlibat.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi sekitar 7,5 mil laut di tenggara Dahit, Oman. Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, peristiwa ini memicu kekhawatiran serius mengenai stabilitas keamanan di salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia tersebut. Serangan ini terjadi tepat setelah adanya nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali akses jalur laut.

Ketegangan di Selat Hormuz telah berlangsung sejak akhir Februari, dipicu oleh konflik militer antara AS-Israel dan Iran. Dampak dari perseteruan tersebut menyebabkan ribuan pelaut terdampar di tengah laut, sementara beberapa serangan sebelumnya telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan awak kapal, terutama dari India. Situasi ini menciptakan krisis kemanusiaan yang kompleks di tengah upaya diplomatik yang sedang berjalan.

Sejak MoU ditandatangani minggu lalu, lalu lintas komersial memang sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Namun, perselisihan fundamental terkait rute pelayaran dan kebijakan pemungutan biaya oleh otoritas Iran masih menjadi penghambat utama. Oman bersama IMO telah mengajukan proposal koridor pelayaran baru yang bertujuan meminimalkan kendali langsung Iran, namun usulan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Teheran dengan alasan keamanan dan kurangnya konsultasi.

Kondisi di Selat Hormuz saat ini masih sangat cair. Iran hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi mengenai keterlibatannya dalam serangan terbaru tersebut, namun sikap mereka yang tidak membantah memicu spekulasi di kalangan komunitas maritim internasional. Ketidakpastian ini membuat operasi evakuasi yang direncanakan oleh IMO menjadi sangat berisiko bagi kapal-kapal bantuan maupun personel penyelamat.

Ke depannya, nasib ribuan pelaut ini bergantung pada keberhasilan negosiasi lanjutan antara kekuatan regional dan global. IMO menegaskan bahwa kerja sama erat antara Iran, Oman, negara pesisir lainnya, serta Amerika Serikat tetap menjadi kunci untuk memastikan kelancaran evakuasi. Selama jaminan keamanan yang konkret belum terwujud, para pelaut yang terjebak harus tetap berada di kapal mereka dalam kondisi yang penuh dengan ketidakpastian dan ancaman keselamatan.

Mengapa Ini Penting

Gangguan di Selat Hormuz berdampak langsung pada rantai pasok energi dan komoditas global yang memengaruhi biaya logistik di Indonesia. Selain itu, keselamatan pelaut Indonesia yang bekerja di kapal-kapal asing menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan industri pelayaran nasional.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
26 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit