Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengecam tindakan Iran yang meluncurkan serangan pesawat nirawak (drone) di Selat Hormuz. Trump melabeli tindakan tersebut sebagai pelanggaran yang "bodoh" terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati dalam konflik Timur Tengah. Pernyataan keras ini disampaikan Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, menyusul insiden yang menargetkan kapal kargo di jalur maritim krusial tersebut.
Dalam keterangannya, Trump merinci bahwa salah satu dari drone yang diluncurkan berhasil menghantam dek atas sebuah kapal kargo besar yang bernilai tinggi. Sementara itu, tiga drone lainnya dilaporkan berhasil ditembak jatuh oleh pihak terkait sebelum mencapai target. Insiden ini terjadi sehari setelah laporan mengenai gangguan keamanan maritim muncul di kawasan perairan yang tengah dipantau ketat oleh komunitas internasional.
Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, mengonfirmasi bahwa sebuah kapal kargo di Selat Hormuz mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah terkena proyektil misterius di sisi kanan kapal. Meskipun insiden tersebut menyebabkan kerusakan fisik yang cukup signifikan, pihak UKMTO memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam serangan yang terjadi hanya 7,5 mil laut atau sekitar 14 kilometer dari lepas pantai Oman tersebut.
Dampak dari serangan ini sangat dirasakan oleh sektor logistik global. Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB, Arsenio Dominguez, secara resmi mengumumkan penghentian sementara upaya evakuasi terhadap sekitar 600 kapal dan 11.000 pelaut yang terjebak di kawasan Teluk. Operasi evakuasi ini sebelumnya direncanakan untuk mengevakuasi mereka dari zona perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ini telah menciptakan ketegangan geopolitik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Meskipun gencatan senjata telah dinyatakan berlaku sejak 8 April, stabilitas di kawasan Teluk tetap rapuh. Serangan sporadis, termasuk tindakan terhadap kapal-kapal komersial oleh pasukan Teheran dan serangan balasan oleh AS, terus membayangi upaya perdamaian yang diupayakan oleh berbagai pihak.
Ketegangan yang terus berlanjut di Selat Hormuz ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi keamanan jalur perdagangan internasional. Para analis memperingatkan bahwa jika insiden ini terus berulang, biaya asuransi pengiriman barang akan melonjak dan berpotensi menghambat rantai pasok global. Komunitas internasional kini mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri demi menghindari eskalasi konflik yang lebih luas dan merusak stabilitas ekonomi global.