Berita

PDIP Ragukan Pengakuan Jokowi Terkait Prosesi Injak Kepala Kerbau di Lampung

PDIP Ragukan Pengakuan Jokowi Terkait Prosesi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Ringkasan

  • PDIP meragukan pengakuan Jokowi yang mengaku tidak tahu soal prosesi injak kepala kerbau saat kunjungan di Lampung, menyebutnya sebagai bagian dari skenario politik.

Ketua DPP PDIP, Deddy Sitorus, secara terbuka menyatakan keraguannya terhadap klaim Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang mengaku tidak mengetahui adanya prosesi adat injak kepala kerbau saat kunjungan safari politiknya di Lampung baru-baru ini. Menurut Deddy, narasi ketidaktahuan tersebut dianggap tidak masuk akal, mengingat beredar informasi bahwa Jokowi justru berperan sebagai ketua panitia dalam kegiatan adat tersebut.

Deddy menegaskan bahwa bagi PDIP, tindakan Jokowi yang melibatkan ritual tersebut merupakan urusan pribadi yang tidak berkaitan dengan partai. Namun, ia menyoroti pola perilaku politik Jokowi yang dianggap kerap melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan tertentu, termasuk dalam upaya memelihara dinasti politiknya. Bagi Deddy, manuver ini adalah bagian dari karakter politik yang sudah melekat pada sosok mantan presiden tersebut.

Lebih lanjut, Deddy menyebut bahwa skenario yang terjadi di lapangan terkesan seperti sebuah sandiwara yang dirancang sendiri. Ia menuding bahwa pihak Jokowi berperan sebagai pembuat skenario, orang yang menunjukkan kekhawatiran, sekaligus pihak yang memviralkan peristiwa tersebut di media sosial agar terus menjadi pembicaraan hangat di ruang publik.

Di sisi lain, Ketua DPP PSI, Bestari Barus, memberikan pembelaan terhadap Jokowi. Ia menegaskan bahwa Jokowi sama sekali tidak mengetahui akan adanya prosesi injak kepala kerbau tersebut sebelum ia naik ke atas panggung. Menurut Bestari, Jokowi hanya mengikuti arahan tetua adat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal dan tidak sedang melakukan peran layaknya seorang aktor.

Bestari menambahkan bahwa saat melihat kepala kerbau di depannya, Jokowi sempat bergumam bahwa peristiwa tersebut akan memicu reaksi ramai dari publik. Ia menekankan bahwa Jokowi tidak sedang melakukan drama politik, melainkan murni menjalankan agenda adat yang telah disusun oleh penyelenggara acara saat ia menerima gelar 'Baginda Pemuka Bangsa'.

Perdebatan mengenai prosesi ini terus bergulir di tengah masyarakat, dengan berbagai interpretasi yang muncul terkait simbolisme di balik ritual tersebut. Sementara PDIP tetap skeptis dan mengaitkannya dengan strategi politik pencitraan, pihak pendukung Jokowi bersikeras bahwa kehadiran sang mantan presiden dalam prosesi tersebut adalah bentuk apresiasi terhadap tradisi daerah yang tidak direncanakan sebelumnya.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti bagaimana simbolisme budaya sering kali ditarik ke dalam arena politik praktis di Indonesia untuk memengaruhi opini publik. Analisis ini penting bagi pembaca untuk memahami bagaimana narasi politik dikemas di media sosial dan bagaimana partai politik saling mengawasi langkah lawan politiknya di luar jalur formal.

Sumber Asli
Cnnindonesia
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit