Pelatih tim nasional Paraguay, Gustavo Alfaro, kembali melontarkan kritik pedas terkait kebijakan jeda hidrasi atau cooling break yang diterapkan dalam ajang Piala Dunia. Dalam konferensi pers yang berlangsung pada Rabu (24/6) di Santa Clara, California, Alfaro menyatakan bahwa aturan tersebut merusak ritme dan kontinuitas permainan sepak bola secara signifikan.
Menurut pelatih asal Argentina yang dikenal vokal ini, penerapan cooling break yang bersifat wajib telah mengubah format pertandingan dari dua babak menjadi seolah-olah empat kuarter. Ia menegaskan bahwa sepak bola adalah olahraga yang mengandalkan aliran permainan yang berkelanjutan, dan interupsi yang dipaksakan ini justru mengganggu momentum serta strategi yang telah disusun oleh tim di lapangan.
Alfaro berpendapat bahwa jeda hidrasi seharusnya hanya diberlakukan dalam kondisi cuaca ekstrem dan melalui kesepakatan antara kedua tim yang bertanding. Ia mengkritik kebijakan yang dianggapnya kaku ini, seraya menyebut bahwa dalam masa lalu, keputusan untuk beristirahat di tengah pertandingan dapat dinegosiasikan berdasarkan suhu udara dan kondisi fisik para pemain, bukan sekadar aturan yang tidak bisa didiskusikan.
Kekesalan Alfaro memuncak saat menyoroti kekalahan telak 4-1 timnya dari Amerika Serikat, di mana ia merasa cooling break yang terlalu lama telah memutus upaya bangkit anak asuhnya. Hal serupa juga ia rasakan saat timnya berjuang mengejar gol tambahan dalam laga melawan Turki. Bagi Alfaro, interupsi ini lebih terasa sebagai gangguan teknis daripada kebutuhan mendesak untuk kesehatan pemain.
Di sisi lain, Presiden FIFA, Gianni Infantino, tetap membela kebijakan tersebut. Menurut pihak otoritas sepak bola dunia, penerapan cooling break murni didasarkan pada pertimbangan kesehatan dan keselamatan pemain di tengah kondisi cuaca yang menantang. Namun, Alfaro tetap menaruh kecurigaan bahwa ada kepentingan komersial di balik kebijakan ini, seraya menyinggung mahalnya harga tiket yang membebani kelas pekerja sebagai penggemar sejati sepak bola.
Menatap laga krusial melawan Australia di Grup D, Alfaro menegaskan fokus utamanya adalah membawa Paraguay lolos ke babak 32 besar. Meskipun menghadapi tantangan fisik, terutama keunggulan tinggi badan pemain Socceroos, ia optimistis dengan komitmen dan semangat juang skuadnya. Alfaro percaya bahwa dengan kesabaran dan taktik yang tepat, timnya mampu menorehkan sejarah baru dalam perjalanan mereka di turnamen internasional ini.