Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengajukan permohonan kepada Kongres untuk menyetujui tambahan anggaran belanja negara sebesar US$87,6 miliar. Sebagian besar dari dana tersebut dialokasikan untuk mendanai keterlibatan militer AS dalam perang melawan Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu. Pengajuan ini datang di tengah meningkatnya ketegangan politik dan kekhawatiran dari berbagai pihak mengenai dampak jangka panjang dari konflik tersebut.
Dalam surat yang dikirimkan oleh Direktur Anggaran Gedung Putih, Russell Vought, kepada Ketua DPR Mike Johnson, pemerintah mendesak agar Kongres segera memproses permintaan tersebut. Vought menekankan bahwa langkah ini krusial untuk menjaga stabilitas operasional militer dan mendukung prioritas nasional lainnya yang mendesak di tengah situasi global yang tidak menentu.
Sebagian besar paket anggaran tersebut, yakni sekitar US$67 miliar, akan disalurkan ke Pentagon. Rinciannya mencakup US$21 miliar untuk pengadaan amunisi dan kapabilitas militer, US$17,3 miliar untuk biaya operasional harian, serta US$12,1 miliar untuk program-program rahasia. Selain itu, Departemen Energi akan menerima US$768 juta untuk keamanan nuklir, sementara Departemen Luar Negeri mendapatkan US$300 juta untuk pengamanan kedutaan di kawasan sekitar Iran.
Selain sektor pertahanan, pemerintah juga menyertakan dana bantuan untuk sektor domestik. Hal ini mencakup US$11 miliar untuk bantuan petani yang terdampak gangguan perdagangan dan kebijakan tarif, US$1,4 miliar untuk penanganan wabah Ebola di Afrika Tengah, serta dana untuk proyek infrastruktur seperti renovasi Penn Station di New York sebesar US$1 miliar.
Pengajuan ini memicu kritik tajam dari pihak oposisi. Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, menuduh Trump menyeret negara ke dalam perang yang ceroboh dan kini meminta pembayar pajak untuk menanggung biayanya. Senator Patty Murray juga menyoroti bahwa perang ini dimulai tanpa otorisasi kongres yang jelas, sehingga menambah beban ekonomi yang tidak perlu bagi rakyat Amerika.
Di sisi lain, posisi Trump di Kongres menjadi semakin sulit. Sehari sebelum pengajuan anggaran ini, Kongres telah meloloskan resolusi simbolis yang mendesak Trump untuk mengakhiri permusuhan dengan Iran. Dengan oposisi dari Partai Demokrat dan mulai munculnya keraguan di kalangan Partai Republik mengenai efektivitas perang ini, Trump menghadapi tantangan besar untuk mendapatkan dukungan suara yang dibutuhkan di Senat.