Jack Zhao, 60 tahun, sudah sepuluh tahun mengantar pengunjung menjelajahi Singapura. Sejak tiga puluh tahun lalu dia bermigrasi dari Tiongkok, warga negara Singapura ini menyaksikan lanskap industri berubah drastis. Bus-bus pariwisata yang dulu memadati titik-titik ikonik seperti Merlion Park atau Gardens by the Bay kini jarang terlihat. Penggantinya: wisatawan yang berjalan sendiri, ponsel di tangan, mengikuti rute yang disusun algoritma.
Perubahan prilaku konsumen memaksa Zhao dan rekan-rekannya mengubah model bisnis. "Kita harus berubah karena prilaku konsumen berubah," ujarnya kepada CNA. "Metode lama sudah tidak bisa dipakai. Sulit untuk bertahan." Dia kini fokus pada tur privat niche — bersepeda menelusuri lorong-lorong Kampong Glam, jalan kaki mengeksplorasi warisan Chinatown, hingga petualangan kuliner di Little India.
Data dari Society of Tourist Guides Singapore menggambarkan keparahan situasi. Dari sekitar 4.000 pemandu berlisensi, hanya separuh yang mendapat tugas rutin. Presiden organisasi, Wyman Poon, mengungkapkan umpan balik anekdot dari anggota: pemandu berbahasa Inggris mengalami penurunan tugas 40 persen di Mei dan 70 persen di Juni. Lebih parah lagi bagi pemandu berbahasa Mandarin — 50 persen di Mei dan 80 persen di Juni. "Itu penurunan yang sangat besar," kata Poon. "Pemandu Mandarin terdampak lebih berat."
Poon menegaskan AI bukan satu-satunya penyebab. Ketidakpastian ekonomi global, tegangan geopolitik, dan permintaan yang merosot untuk tur paket tradisional ikut berperan. Namun tidak bisa dipungkiri, TikTok, RedNote, dan itinerary buatan AI telah memberdayakan wisatawan untuk jadi perencana perjalanan mereka sendiri. Model bisnis lama — pemandu mengantar rombongan dari satu atraksi ke atraksi lain — kehilangan daya tarik.
Di sinilah argumen "sentuhan manusia" Zhao menjadi relevan. "Kita punya sentuhan manusia, berjalan berdampingan," katanya. "Akhirnya aku ceritakan kisahku, wisatawan ceritakan kisah mereka. Kita jadi teman." Buktinya, banyak klien yang tetap berhubungan pulang ke negara asal, merekomendasikan Zhao ke teman-teman mereka. Koneksi emosional itulah yang algoritma tak bisa replikasi.
Singapore Tourism Board (STB) menyadari pergeseran ini. Sejak 1 Maret, kerangka perpanjangan lisensi Learn + Do yang diperbarui mendorong pemandu mengasah keterampilan storytelling, pemasaran media sosial, dan AI generatif. STB menegaskan teknologi baru dimaksudkan melengkapi — bukan menggantikan — pemandu wisata, membantu mereka menciptakan pengalaman lebih otentik dan imersif.
Perspektif Indonesia: tren serupa mulai terlihat di destinasi populer seperti Bali, Yogyakarta, dan Labuan Bajo. Wisatawan domestik dan mancanegara semakin sering menggunakan TikTok atau ChatGPT untuk menyusun rute "hidden gems" tanpa pemandu. Komunitas pemandu lokal di Borobudur atau Mandalika mulai menawarkan pengalaman berbasis minat khusus — fotografi matahari terbit, workshop batik, atau trekking gunung api — mirip strategi Zhao. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun telah meluncurkan program sertifikasi pemandu digital dan pelatihan konten media sosial.
Tantangan di Indonesia lebih kompleks. Jumlah pemandu wisata non-formal yang tidak tersertifikasi jauh lebih besar, persaingan harga ketat, dan infrastruktur digital di daerah masih tidak merata. Di sisi lain, peluang justru terbuka lebar bagi pemandu yang mau beradaptasi: wisatawan Indonesia milenial dan Gen Z bersedia membayar mahal untuk pengalaman "authentic" dan "Instagrammable" yang dikurasi personal. Kuncinya sama — tidak lawan teknologi, tapi gunakan teknologi untuk memperkuat nilai unik yang hanya manusia punya: empati, konteks budaya lokal, dan kemampuan berimprovisasi saat rencana berantakan.
Masa depan profesi pemandu wisata bukan tentang siapa yang paling hafal sejarah bangunan, tapi siapa yang paling mampu menciptakan momen yang tak terlupakan. Zhao membuktikannya: dia tidak hanya menjual tur, dia menjual persahabatan. Di era AI, itulah produk paling langka dan berharga.