Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan wisata kebugaran atau wellness tourism sebagai pilar utama pengembangan pariwisata nasional yang berdaya saing global. Fokus ini diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis, sejalan dengan peluncuran program Wonderful Indonesia Wellness yang berlangsung sepanjang November 2025.
Program tersebut dirancang untuk menyatukan dua festival besar di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Royal Surakarta Wellness Festival yang digagas Keraton Surakarta akan berpadu dengan Jogja Cultural Wellness Festival dari Badan Promosi Pariwisata Daerah Yogyakarta. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa negara mulai memadukan warisan budaya dengan gaya hidup sehat sebagai produk pariwisata bernilai tinggi.
Latar belakang kebijakan ini cukup jelas. Pariwisata tidak lagi sekadar soal destinasi yang dikunjungi, melainkan pengalaman bermakna yang dicari pelancong. Masyarakat global, termasuk Indonesia, mulai menilai waktu jauh dari dunia digital sebagai kemewahan tersendiri. Keinginan untuk melepaskan rutinitas dan merasakan hidup secara utuh menjadi dorongan utama.
Perkembangan kecerdasan buatan yang masif justru memicu reaksi berlawanan di dunia nyata. Fenomena extreme AI is creating extreme analog mencuat ketika orang semakin mendambakan interaksi asli dan tempat yang membangkitkan emosi. Experience economy pun tumbuh, dengan sektor kebugaran dan olahraga termasuk industri dengan laju tercepat di dunia.
Widiyanti menyoroti bahwa tren ini bukan sekadar gaya hidup sesaat. Semakin banyak pelancong yang ingin menghayati momen ketimbang sekadar memiliki barang. Hubungan antarmanusia dan kedalaman pengalaman kini lebih dihargai daripada kemudahan teknologi semata. Pergeseran nilai inilah yang mendasari arah baru pariwisata Indonesia.
Dampak kebijakan ini sangat relevan bagi industri dalam negeri. Global Wellness Institute mencatat nilai wellness economy global mencapai 6,8 triliun dolar AS pada 2024 dan diproyeksi naik menjadi 9,75 triliun dolar AS pada 2029. Indonesia sendiri tercatat sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara dengan nilai 55,77 miliar dolar AS tahun lalu.
Potensi serapan wisatawan juga terlihat dari data UN Tourism. Wisata olahraga menyumbang 10 persen belanja wisata global pada 2023 dan diperkirakan tumbuh menjadi 17,5 persen pada 2030. Survei American Express Travel dalam Indonesia Tourism Outlook 2025–2026 memproyeksikan milenial dan Gen Z makin aktif bepergian demi pengalaman baru dan kegiatan kebugaran.
Di dalam negeri, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan sudah tinggi. Nielsen melaporkan 86 persen warga Indonesia proaktif menjaga kesehatan, angka yang berada di atas rata-rata global. Kondisi ini membuka peluang besar menjadikan tanah air sebagai destinasi unggulan sports and wellness tourism di kawasan.
"Wellness tourism kami tetapkan sebagai salah satu fokus dalam pengembangan pariwisata berkualitas," ujar Widiyanti. Ia menambahkan bahwa kementerian akan terus mendorong event yang menggabungkan olahraga, pariwisata, dan gaya hidup sehat.
Royal Surakarta Wellness Festival menghadirkan Javanese Wisdom Immersion, Gending for Therapy, hingga Javanese Secret Recipe. Sementara Jogja Cultural Wellness Festival menawarkan healthy food, eco-friendly living, serta spiritual wellness. Ragam ini menunjukkan kekayaan lokal mampu diemas menjadi produk kebugaran berkelas.
Ke depan, pemerintah menekankan kolaborasi erat antara kementerian, pelaku usaha, komunitas, dan pemangku kepentingan lain. Tanpa sinergi tersebut, promosi wisata kebugaran sulit bersaing secara internasional. Program November 2025 menjadi uji coba sekaligus etalase awal bagi strategi jangka panjang.
Tren wellness diproyeksikan makin menguat seiring kesadaran pasca-pandemi dan kejenuhan digital. Indonesia dengan alam dan budaya yang luas memiliki modal dasar. Namun, kesiapan infrastruktur dan standar layanan harus dibenahi agar wisatawan berkualitas betul-betul datang dan tinggal lebih lama.