Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan sektor pertanian sebagai salah satu pilar utama hilirisasi ekonomi, dengan memfokuskan pengembangan pada komoditas kratom dan kemenyan. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa langkah strategis ini diambil untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal di pasar internasional, yang diproyeksikan mampu menghasilkan devisa hingga puluhan miliar dolar bagi negara.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari transformasi ekonomi yang sebelumnya sukses diterapkan pada sektor nikel. Dengan mengadopsi model hilirisasi nikel yang telah berjalan selama satu dekade, pemerintah kini menyasar komoditas bernilai tinggi yang selama ini diekspor dalam bentuk mentah. Fokus hilirisasi ini mencakup pengolahan produk pertanian agar memiliki standar medis dan farmasi yang lebih tinggi sebelum dilempar ke pasar global.
Kratom, tanaman herbal yang banyak tumbuh di Kalimantan Barat, telah menunjukkan potensi pasar yang masif, terutama di Amerika Serikat. Data mencatat bahwa 96 persen pasokan kratom di Negeri Paman Sam berasal dari Indonesia. Nilai ekspor komoditas ini tercatat mencapai US$350 juta atau sekitar Rp5,8 triliun, angka yang dinilai masih bisa ditingkatkan berkali-kali lipat melalui pengolahan hilir yang lebih modern.
Di sisi lain, kemenyan juga dipersiapkan menjadi komoditas unggulan dalam peta jalan hilirisasi nasional. Pemerintah berencana membangun pusat riset khusus di Toba, Sumatra Utara, yang difokuskan pada pemanfaatan teknologi genome sequencing. Fasilitas ini nantinya akan menjadi pusat inovasi bagi pengembangan produk turunan dari kratom dan kemenyan, dengan target peresmian oleh Presiden Prabowo pada Maret 2025 mendatang.
Keputusan untuk mengolah kratom secara serius juga didukung oleh regulasi yang telah disiapkan sebelumnya. Menteri Perdagangan pada periode sebelumnya telah menerbitkan aturan ekspor yang memungkinkan komoditas ini masuk ke jalur perdagangan legal, melalui Permendag Nomor 20 dan 21 Tahun 2024. Kebijakan ini menjadi landasan hukum bagi para pelaku usaha untuk meningkatkan standar kualitas produksi mereka.
Dalam perspektif industri, hilirisasi bukan sekadar meningkatkan harga jual, melainkan juga memperbaiki struktur ekonomi di tingkat daerah. Masyarakat di Kalimantan Barat dan Sumatra Utara diharapkan menjadi penerima manfaat utama melalui penciptaan lapangan kerja di pabrik-pabrik pengolahan. Hal ini juga menjadi upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global.
Analisis ekonomi menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam hilirisasi pertanian adalah konsistensi pasokan dan standar kualitas. Sektor herbal sering kali menghadapi hambatan regulasi di negara tujuan ekspor terkait keamanan kesehatan. Oleh karena itu, kehadiran pusat riset genomik di Toba diharapkan mampu menjawab kebutuhan sertifikasi dan standarisasi produk agar dapat menembus pasar farmasi global yang lebih ketat.
Luhut menegaskan bahwa pemerintah tidak akan main-main dalam mengawal proyek ini. Meski diakui ada tantangan terkait iklim investasi, pemerintah berkomitmen untuk terus berbenah dalam hal regulasi agar investor merasa aman dan nyaman. Sinergi antara kementerian teknis, seperti Kementerian Investasi dan Hilirisasi, menjadi kunci keberhasilan integrasi rantai pasok dari petani hingga ke pasar ekspor.
"Ini merupakan langkah maju bagi Indonesia. Persiapan kami untuk ini segera bisa jalan dan Presiden bersedia nanti meresmikan pusat riset ini jika semua sesuai rencana," ungkap Luhut. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa teknologi pengolahan yang digunakan mampu menjaga esensi herbal dari kratom dan kemenyan tetap terjaga namun dengan kemurnian yang teruji secara laboratorium.
Secara makro, keberhasilan hilirisasi kratom dan kemenyan akan mengubah wajah ekspor pertanian Indonesia. Kita tidak lagi hanya menjual tanah yang menghasilkan tanaman, melainkan menjual produk bernilai tambah tinggi yang memiliki hak paten dan riset yang kuat di baliknya. Ini adalah langkah krusial untuk menyeimbangkan neraca perdagangan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ke depan, pemerintah juga diperkirakan akan memperluas cakupan hilirisasi ke komoditas herbal lainnya yang memiliki keunggulan komparatif. Dengan adanya dukungan riset genomik, Indonesia berpotensi menjadi hub global bagi produk-produk berbasis tanaman tropis. Tren ini sejalan dengan meningkatnya permintaan dunia akan pengobatan herbal alami yang didukung oleh bukti ilmiah.
Langkah ini menandai babak baru bagi komoditas tradisional Indonesia. Jika sebelumnya kratom dan kemenyan hanya dipandang sebagai komoditas pinggiran, kini keduanya berada di garda depan agenda ekonomi nasional. Keberhasilan program ini akan menjadi ujian bagi efektivitas kebijakan hilirisasi di bawah pemerintahan baru, sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia mampu mengelola kekayaan hayatinya secara mandiri.