Pemerintah secara resmi memperkenalkan rangkaian Green and Smart Port Initiatives (GSPI) ASRI 2026. Program ini dirancang untuk mendorong transformasi pelabuhan di Indonesia agar lebih cerdas, efisien, dan ramah lingkungan melalui adopsi teknologi terkini serta penerapan praktik operasional yang berkelanjutan.
Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kemenko Bidang Pangan, Tatang Yuliono, menekankan bahwa inisiatif ini sangat krusial dalam menjaga efektivitas distribusi pangan nasional. Dengan sistem pelabuhan yang lebih pintar, pemerintah optimistis dapat menekan biaya logistik sekaligus meminimalisir dampak lingkungan dari aktivitas pelabuhan.
Program GSPI ASRI 2026 merupakan kelanjutan strategis dari asesmen Green and Smart Port 2025 yang sebelumnya telah dijalankan oleh holding BUMN jasa survei, IDSurvey. Fokus utama dari program ini adalah mengoptimalkan kinerja pelabuhan sebagai tulang punggung logistik pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Salah satu keunikan dari inisiatif tahun 2026 ini adalah integrasi dengan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang digagas oleh Presiden. Tatang menjelaskan bahwa langkah ini merupakan upaya pemerintah untuk menunjukkan komitmen nyata dalam menanamkan nilai-nilai kebersihan dan keindahan dalam operasional fasilitas publik berskala besar.
Selain aspek kebersihan, implementasi teknologi pintar dalam GSPI ASRI 2026 juga ditujukan untuk mendukung target pengurangan emisi karbon. Hal ini sejalan dengan komitmen global dalam menekan dampak perubahan iklim melalui dekarbonisasi sektor transportasi dan logistik maritim yang menjadi urat nadi perdagangan Indonesia.
Rangkaian kegiatan ini akan dimulai dengan fase sosialisasi intensif kepada seluruh pemangku kepentingan terkait. Puncak perhelatan dijadwalkan akan berlangsung pada 15 Juli 2026 di Dermaga C Pelabuhan PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur, yang akan menjadi percontohan bagi pelabuhan lain di seluruh Indonesia dalam mengadopsi standar GSPI ASRI.