Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, secara langsung menyampaikan permintaan maaf kepada mitranya dari Prancis terkait kolom opini yang ditulis oleh Mariano Rajoy. Rajoy, yang menjabat sebagai perdana menteri konservatif pada periode 2011 hingga 2018, menuai kecaman keras karena menyiratkan bahwa skuad sepak bola Prancis tidak memiliki pemain asli Prancis. Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam menjelang bentrokan semifinal Piala Dunia antara kedua negara.
Albares menegaskan bahwa ucapan Rajoy tersebut “tidak dapat ditoleransi” dan membawa “racun rasisme serta xenofobia”. Ia menekankan bahwa pernyataan mantan pemimpin partai tersebut sama sekali tidak mencerminkan pandangan mayoritas masyarakat Spanyol. Penolakan terhadap sentimen itu disampaikan Albares melalui radio Cadena SER, menegaskan komitmen negaranya terhadap inklusivitas.
Kolom yang dimaksud dipublikasikan Rajoy di media daring El Debate pada Jumat pekan lalu. Dalam tulisannya, ia memuji kekuatan tim Prancis, namun secara tersirat menyerang latar belakang keturunan sejumlah pemain yang berasal dari Afrika dan Karibia Afrika. “Prancis memiliki skuad berkualitas tinggi. Namun, tidak ada pemain Prancis di dalamnya,” tulis Rajoy dalam kolom tersebut.
Partai Rakyat (PP), partai konservatif yang dipimpin Rajoy, mencoba meredam kontroversi melalui juru bicaranya, Borja Semper. Semper mengklaim kolom tersebut ditulis tanpa niat jahat dan hanya bermaksud sebagai bentuk sarkasme. Upaya pelunakan itu gagal meredam amarah di Prancis yang tengah memperingati hari nasionalnya.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, yang hadir di Paris untuk perayaan Hari Nasional Prancis pada Selasa, ikut mengecam pernyataan tersebut. Melalui akun media sosial X, Sanchez mengkritik pihak yang “mengukur kebangsaan seseorang dari nama belakang, tempat lahir, atau warna kulit”. Ia menyebut kata-kata Rajoy sebagai bentuk xenofobia yang memalukan.
Di Indonesia, isu rasisme dalam olahraga kerap muncul ke permukaan, terutama melalui ruang digital. Sebagai portal teknologi, menarik melihat bagaimana platform seperti X (dulu Twitter) menjadi amplifier sekaligus penyebar hoaks dan kebencian lintas batas. Kasus Rajoy menunjukkan bahwa mantan pemimpin negara pun tidak kebal dari penyebaran narasi kebencian yang viral, sekaligus membuktikan urgensi moderasi konten di era algoritma.
Masyarakat Indonesia, yang sangat aktif di media sosial, sering kali dihadapkan pada perdebatan identitas serupa dalam konteks sepak bola lokal maupun internasional. Persoalan “keaslian” pemain naturalisasi di Tanah Air kerap memicu diskusi panas di kolom komentar. Peristiwa di Eropa ini memberikan cermin betapa berbahayanya rasisme terselubung yang dibalut humor atau sarkasme di ruang publik digital.
Lebih jauh, respons cepat pemerintah Spanyol dan Prancis menunjukkan standar diplomasi modern yang tidak lagi mentoleransi ujaran kebencian atas nama kebebasan berpendapat. Bagi pengguna internet di Indonesia, ini menjadi pelajaran tentang batas antara kritik olahraga dan pelanggaran hak asasi manusia yang berujung pada ketegangan bilateral.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, menanggapi kasus ini dengan nada tajam. “Pernyataan ini patetik. Sekali dan untuk selamanya, Prancis tidak memiliki warna kulit. Setiap pernyataan sebaliknya adalah tanda kebodohan, rasisme, atau keduanya,” tegas Barrot kepada stasiun BFM TV. Sementara itu, juru bicara partai sayap kanan National Rally, Julien Odoul, menyebut Rajoy secara terang-terangan sebagai seorang rasis.
Kontroversi ini juga terjadi di tengah skandal serupa di Amerika Selatan. Senator Paraguay, Celeste Amarilla, sebelumnya melontarkan cercaan rasial di X usai timnya tersingkir dari kejuaraan. Ia menyebut kapten Prancis Kylian Mbappe sebagai “Kamerun yang dijajah yang mati-matian berpura-pura jadi orang Prancis”. Mbappe membalas dengan membela diri dan sesama pemain, menyebut Amarilla sebagai sosok yang menjijikkan dan tidak layak menjabat. Federasi Sepak Bola Prancis pun mengambil jalur hukum dengan mengajukan pengaduan pidana.
Ke depan, federasi sepak bola Eropa dan global diprediksi akan semakin ketat dalam menindak ujaran rasial, termasuk yang dilontarkan oleh tokoh politik. Kombinasi tekanan diplomatik dan ancaman hukum pidana akan menjadi tameng utama bagi pemain berdarah campuran yang kerap menjadi korban stereotip.
Tren keberagaman dalam skuad nasional modern sudah menjadi keniscayaan seiring mobilitas manusia global. Upaya-upaya untuk memecah belah berdasarkan warna kulit, sebagaimana yang dilakukan Rajoy, dipastikan akan terus mendapat perlawanan dari arus utama masyarakat internasional yang mengedepankan persaudaraan melalui olahraga.