JOHOR BAHRU: Menjelang pekan terakhir masa kampanye pemilihan negara bagian Johor, Onn Hafiz Ghazi dari Barisan Nasional (BN) diprediksi kuat akan mempertahankan posisinya sebagai Menteri Besar. Para pemilih dan pengamat politik menyoroti rekam jejak ekonomi yang stabil serta reputasi Onn Hafiz sebagai pemimpin yang terjun langsung ke lapangan sebagai modal utama kesuksesannya.
Di sisi lain, analis mencatat bahwa koalisi oposisi, yakni Pakatan Harapan (PH) dan Perikatan Nasional (PN), belum secara resmi mengumumkan kandidat Menteri Besar mereka. Ketidakpastian ini dinilai sebagai sinyal bahwa kedua koalisi tersebut mungkin tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk membentuk pemerintahan negara bagian. Meski demikian, nama-nama seperti mantan Menteri Pendidikan Maszlee Malik dan anggota parlemen Pulai, Suhaizan Kayat, mencuat dari kubu PH, sementara Sahruddin Jamal disebut-sebut sebagai kandidat potensial dari PN.
Tantangan utama bagi siapapun yang terpilih nanti adalah memastikan momentum pertumbuhan ekonomi Johor benar-benar berdampak pada kesejahteraan warga, khususnya terkait kenaikan upah, perumahan yang terjangkau, serta pengendalian biaya hidup. Pengamat menekankan bahwa Johor memerlukan kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan hubungan antara pemerintah federal, pihak istana, dan Singapura demi menjaga kepercayaan investor.
Onn Hafiz, yang berusia 47 tahun, menjabat sebagai Menteri Besar sejak 2022 setelah BN memenangkan 40 dari 56 kursi di dewan negara bagian. Di bawah kepemimpinannya, Johor berhasil memajukan berbagai inisiatif strategis, termasuk Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) dan proyek Rapid Transit System (RTS) Link, yang memperkuat posisi Johor sebagai koridor pertumbuhan utama di Malaysia.
Tawfik Yaakub, analis politik dari Universiti Malaya, menyatakan bahwa kekuatan utama Onn Hafiz terletak pada kesinambungan administratif. Setelah mengalami periode ketidakstabilan politik antara tahun 2018 hingga 2022, di mana Johor sempat berganti Menteri Besar sebanyak empat kali, kepemimpinan Onn Hafiz dianggap memberikan arah politik yang lebih jelas dan stabil bagi negara bagian tersebut.
Namun, perdebatan tetap berlangsung. Kubu oposisi berargumen bahwa pertumbuhan ekonomi harus didistribusikan secara lebih merata ke seluruh wilayah Johor, tidak hanya berfokus pada proyek-proyek besar. Keberhasilan Menteri Besar terpilih nantinya akan sangat bergantung pada kemampuannya mengelola dinamika politik internal, hubungan dengan kerajaan, serta kebijakan luar negeri yang bersentuhan langsung dengan Singapura sebagai mitra dagang terdekat.