Seorang pemilik mobil sport mewah di Tiongkok barat daya kini menempuh jalur hukum setelah kendaraan kesayangannya mengalami kerusakan parah akibat ulah sekelompok anak kecil. Peristiwa yang memicu kemarahan publik ini menimpa Zhang, seorang pria asal Kunming, Provinsi Yunnan, yang mendapati mobil Ferrari merah miliknya yang bernilai 3,6 juta yuan atau sekitar Rp8,3 miliar rusak parah.
Kejadian bermula ketika Zhang memarkir kendaraannya di area terbuka sebelum ia pergi untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Saat ia tidak berada di tempat, seorang tetangga melaporkan bahwa empat orang anak laki-laki terlihat memanjat ke atas mobil tersebut. Tanpa pengawasan orang tua, anak-anak itu secara berulang kali menggunakan kap mesin dan atap mobil sebagai perosotan.
Rekaman kamera pengawas (CCTV) di lokasi kejadian mengungkap fakta yang lebih mengejutkan. Dalam video tersebut, terlihat anak-anak itu mendekati mobil dengan membawa tongkat bambu panjang sebelum akhirnya memanjat ke atas atap kendaraan. Aksi tersebut tidak hanya meninggalkan bekas goresan yang dalam pada bodi mobil, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada bagian bumper depan yang retak akibat beban tubuh mereka.
Setelah kembali dari perjalanan bisnisnya, Zhang sangat terkejut melihat kondisi mobilnya yang tidak lagi mulus. Ia segera melakukan pengecekan mendalam dan menemukan bahwa kerusakan yang terjadi cukup ekstensif di seluruh bagian bodi. Hal ini tentu saja menurunkan nilai jual dan estetika dari kendaraan mewah tersebut secara signifikan.
Zhang sempat mencoba bersikap bijaksana dengan tidak langsung membawa masalah ini ke bengkel resmi Ferrari. Sebagai sesama orang tua, ia mengaku ingin memberikan toleransi dan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Namun, estimasi biaya perbaikan di bengkel resmi sendiri diperkirakan mencapai 100.000 yuan atau sekitar Rp230 juta, sebuah angka yang tidak kecil untuk kerugian akibat kelalaian pihak lain.
Sikap orang tua dari anak-anak tersebut yang dianggap tidak menunjukkan penyesalan menjadi pemicu utama Zhang akhirnya memutuskan untuk melayangkan gugatan hukum. Ketidakpedulian pihak keluarga pelaku membuat proses mediasi menjadi buntu. Kini, kasus ini menjadi sorotan publik di Tiongkok mengenai pentingnya pengawasan orang tua terhadap perilaku anak di ruang publik serta tanggung jawab atas kerusakan properti orang lain.