Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kerinci, Jambi, mengambil langkah strategis dalam menjaga eksistensi dan kualitas komoditas unggulan daerah, yakni kayu manis (Cinnamomum verum). Melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan, pemerintah memberikan intervensi nyata berupa penyaluran bibit berkualitas kepada para petani yang tergabung dalam kelompok tani di delapan kecamatan penghasil utama.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kerinci, Osra Yandi, menyatakan bahwa program ini merupakan upaya berkelanjutan untuk memastikan keberlangsungan sektor perkebunan. Dalam dua tahun terakhir, Pemkab Kerinci telah menyalurkan sebanyak 251 ribu bibit, dengan rincian 150 ribu bibit pada tahun 2024 dan 101 ribu bibit pada tahun 2026, guna meremajakan lahan perkebunan masyarakat.
Adapun delapan wilayah yang menjadi fokus distribusi bantuan ini meliputi Kecamatan Gunung Kerinci, Siulak, Siulak Mukai, Air Hangat Barat, Batang Merangin, Gunung Raya, Bukit Kerman, dan Kecamatan Keliling Danau. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan yang saat ini mencakup lebih dari 40 ribu hektare dengan pola tumpang sari bersama tanaman kopi.
Selain bantuan bibit, pemerintah daerah juga memberikan perhatian serius pada aspek legalitas dan kualitas produk. Hal ini diwujudkan melalui penetapan Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM untuk melindungi keaslian kayu manis Kerinci. Selain itu, pemerintah rutin memberikan edukasi pascapanen agar petani mampu menjaga standar kebersihan produk dari jamur dan kotoran, yang berdampak langsung pada stabilitas harga jual.
Dari sisi pemasaran, Pemkab Kerinci aktif mempertemukan petani lokal dengan eksportir nasional maupun internasional melalui asosiasi petani. Strategi ini terbukti efektif, di mana saat ini kayu manis asal Kerinci telah menembus pasar global, mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika. Harga di tingkat petani pun terpantau stabil dan menguntungkan, yakni mencapai Rp55 ribu per kilogram.
Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menyediakan dukungan teknis, termasuk bantuan alat pengolahan pascapanen dan penguatan kelembagaan koperasi. Upaya integrasi dari hulu ke hilir ini diharapkan dapat menjadikan kayu manis Kerinci sebagai komoditas ekspor yang lebih kompetitif, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan.