Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kini tengah memprioritaskan pengembangan sektor ekowisata di wilayah yang masuk dalam kategori 3T (terpencil, terdepan, dan terluar). Langkah strategis ini ditempuh melalui penguatan akses infrastruktur dasar, mulai dari perbaikan akses jalan darat, peningkatan transportasi sungai, hingga penyediaan layanan listrik dan digitalisasi yang memadai. Upaya ini diharapkan mampu mengurai keterisolasian daerah sekaligus menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke destinasi tersembunyi di Kaltim.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, Ririn Sari Dewi, menyatakan bahwa potensi wisata di wilayah seperti Kabupaten Kutai Barat dan Mahakam Ulu sangat besar, namun selama ini terkendala oleh aksesibilitas yang sulit. Destinasi seperti air terjun dan situs Batu Dinding menjadi fokus utama dalam pengembangan ini. Pemprov berkomitmen untuk memberikan dukungan infrastruktur yang menyeluruh agar potensi alam dan budaya di daerah tersebut dapat diakses dengan lebih mudah oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Salah satu proyek infrastruktur vital yang tengah digarap adalah pembangunan ruas jalan Tering–Ujoh Bilang sepanjang 136 kilometer. Hingga saat ini, sebanyak 90 kilometer telah berhasil terealisasi, dengan target penyelesaian menyeluruh pada tahun 2027. Proyek ini didukung penuh oleh alokasi APBD Kaltim sebesar Rp90 miliar pada tahun 2026. Selain itu, pemerintah juga melakukan perbaikan jalan lingkar wisata yang menjangkau sejumlah titik populer seperti Gunung S, Danau Jempang, serta Goa Ngereng di Kutai Barat.
Selain infrastruktur fisik jalan, Pemprov Kaltim juga fokus pada penyediaan utilitas penunjang lainnya. Dukungan jaringan listrik melalui PLN dan PLTS terpusat, serta perluasan jaringan komunikasi digital, menjadi elemen krusial untuk memudahkan operasional layanan wisata di lapangan. Dengan adanya konektivitas digital yang stabil, para pelaku usaha wisata lokal dapat lebih mudah melakukan pemasaran serta memberikan pelayanan yang lebih profesional kepada para pengunjung.
Ke depannya, pemerintah daerah berencana melengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti pembangunan pusat informasi turis, penginapan yang representatif, serta penyediaan jalur keamanan di area wisata. Ririn menekankan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif di Kaltim. Hal ini dilakukan agar sektor wisata tidak hanya sekadar menjadi objek kunjungan, tetapi mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal melalui penciptaan lapangan kerja.
Dalam diskusi bertajuk Bincang Pariwisata di Samarinda, berbagai asosiasi seperti IHGMA, PUTRI, dan IFC Kaltim menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah ini. Kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sektor pariwisata Kaltim. Dengan promosi yang berkelanjutan dan perbaikan infrastruktur yang konsisten, Kaltim optimistis dapat menjadikan sektor ekonomi kreatif sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah di masa depan.