Internasional

Pemukim Israel Bakar Dua Masjid di Tepi Barat Usai Bentrokan Mematikan

Ringkasan

  • Pemukim Israel membakar dua masjid di Qusra dan Kour, Tepi Barat, Minggu (26/7) malam, menghancurkan bangunan dan meninggalkan graffiti ancaman berbahasa Ibrani.

Kekerasan di Tepi Barat Palestina melonjak lagi setelah sekelompok pemukim Israel menyerang dua masjid pada Minggu (26/7) malam. Kejadian ini terjadi hanya berminggu-minggu setelah bentrokan mematikan di desa Tell menewaskan enam orang dari kedua belah pihak. Otoritas Palestina menilai serangan ini sebagai bagian dari eskalasi sistematis yang mengancam stabilitas wilayah.

Wali Kota Qusra, Abdel Azim Wad, mengonfirmasi kepada AFP bahwa masjid yang masih dalam tahap pembangunan di selatan kota itu dibakar hingga struktur batu bangunannya rusak. Pintu masuk hancur total dan dinding dicat graffiti berbahasa Ibrani berisi kata "balas dendam". Insiden terpisah juga dilaporkan di desa Kour dekat Tulkarem, di mana masjid lain dibakar dan dindingnya dihiasi slogan rasis.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina dalam pernyataan resmi menyebut pelaku bertindak secara terorganisir. "Sekelompok pemukim membakar masjid di desa Kour dan menuliskan slogan-slogan rasis di dindingnya," tulis kementerian tersebut. Polisi Israel telah membuka penyelidikan, namun hingga kini belum ada penangkapan pelaku pembakaran masjid.

Latar belakang kekerasan ini bermula dari bentrokan di desa Tell pada Jumat pekan lalu. Empat warga Palestina dan dua warga Israel tewas dalam pertikaian yang melibatkan batu, senjata api, dan serangan fisik. Militer Israel (IDF) segera melancarkan operasi "kontra-terorisme" masif di Nablus dan sekitarnya, menangkap puluhan warga Palestina.

Selama akhir pekan, IDF mengklaim telah menahan lebih dari 130 orang yang masuk daftar buronan. Di antara tertangkap ada penyelundup senjata, anggota Hamas, pelaku hasutan, dan individu yang diduga merencanakan serangan. Pasukan juga memetakan rumah dua warga Palestina yang ditudingi bertanggung jawab atas bentrokan Jumat, langkah yang biasa menjadi prelude ke pembongkaran rumah.

Kondisi di Nablus hampir lumpuh pada Sabtu. Jurnalis AFP mencatat antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar karena pasokan BBM menipis. Blokade jalan dan operasi militer melumpuhkan aktivitas ekonomi, memperparah penderitaan warga sipil yang sudah berbulan-bulan hidup di bawah tekanan.

Analis keamanan menilai pembakaran tempat ibadah menandakan pergeseran taktik pemukim ekstremis. Dulu fokus pada penebangan pohon zaitun atau serangan fisik perorangan, kini beralih ke destruksi simbol keagamaan untuk memicu ketakutan kolektif. Pola ini mirip dengan strategi "price tag" yang marak 2010-an, namun dengan intensitas dan frekuensi lebih tinggi.

Komunitas internasional belum mengeluarkan pernyataan keras. Amerika Serikat dan Uni Eropa cenderung mengeluarkan pernyataan standar "mengutuk kekerasan dari kedua belah pihak" tanpa sanksi konkret. Ketidaktindakan ini dinilai memberi ruang gerak bagi kelompok pemukim radikal yang merasa kekebalan hukum.

Di sisi Palestina, insiden ini memperkuat narasi bahwa otoritas Israel — baik militer maupun sipil — gagal melindungi warga non-kompatriotenya. Lembaga hak asasi manusia Israel seperti B'Tselem dan Yesh Din telah mendokumentasikan ratusan kasus kekerasan pemukim tanpa proses hukum yang adil. Tingkat konviksi pelaku pemukim historis hanya sekitar 3 persen.

Pakar hukum internasional menyoroti bahwa pembakaran tempat ibadah dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang di bawah Statuta Roma. Jika dibuktikan sistematis dan berulang, hal ini membuka peluang penuntutan di Pengadilan Pidana Internasional (ICC), yang saat ini menyelidiki situasi di Palestina sejak 2021.

Menantang eskalasi, masyarakat sipil Palestina di Qusra dan Kour menggelar doa bersama di ruinas masjid mereka pada pagi Senin. "Kami akan membangun kembali," ucap seorang imam setempat yang menolak disebut nama. Semangat ketahanan ini menjadi respons umum Palestina terhadap setiap upaya penghapusan identitas keagamaan dan budaya mereka.

Ke depannya, perhatian akan tertuju pada apakah otoritas Israel akan menegakkan hukum terhadap pelaku pembakaran masjid dengan serius, atau biarkan impunitas berlanjut. Sejarah menunjukkan, ketidakadilan yang tidak terbayar hanya menabur benih balas dendam yang lebih besar di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Berkat posisi Indonesia sebagai negara muslim terbesar dan pendukung konsisten kemerdekaan Palestina, eskalasi kekerasan di Tepi Barat bukan sekadar berita luar negeri. Destruksi tempat ibadah menyentuh sensitivitas religius rakyat Indonesia dan menguji komitmen diplomatik Jakarta di forum internasional seperti OIC dan PBB. Lebih jauh, ketidakstabilan wilayah ini memengaruhi harga minyak global dan rute perdagangan yang vital bagi ekonomi Indonesia. Pemerintah juga harus waspada terhadap potensi radikalisasi domestik yang memanfaatkan narasi ketidakadilan di Palestina.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
27 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit