Kelompok pemukim Israel melancarkan serangan berturut‑turut di wilayah Tepi Barat yang diduduki pada Minggu (26/7) dini hari. Mereka membakar sebuah masjid yang sedang dibangun di kota Qusra, selatan Nablus, lalu merusak sebagian rumah warga Palestina di lingkungan Al‑Dubbat, Beit Furik. Di lokasi terpisah, para pemukim menyerang pekerja Palestina di fasilitas pemecah batu dekat Ein Samiya, Kafr Malik, hingga menyebabkan beberapa orang terluka dan membakar alat berat.
Serangan di Masjid Al‑Rahma menjadi yang paling merusak. Wali Kota Qusra, Abdel Azim Wadi, mengkonfirmasi kepada kantor berita Palestina WAFA bahwa para pemukim menyerbu kawasan selatan kota dan membakar bangunan yang masih dalam tahap konstruksi. Api menghanguskan material kayu dan peralatan konstruksi, meskipun upaya pemadam kebakaran berhasil mencegah kobaran meluas ke pemukiman sekitarnya.
Eskalasi kekerasan ini terjadi setelah bentrokan sebelumnya di kota Tell dekat Nablus, di mana serangan pemukim yang didukung militer Israel menewaskan empat warga Palestina dan dua warga Israel. Sebagai reaksi, militer Israel memberlakukan blokade total terhadap Nablus dan wilayah sekitarnya, melakukan penangkapan massal, dan mengumumkan persiapan operasi militer berskala besar di seluruh Tepi Barat.
Sejak Oktober 2023, serangan militer dan pemukim Israel telah menewaskan setidaknya 1.182 warga Palestina di Tepi Barat, melukai ribuan orang, dan menahan sekitar 24.000 warga, menurut data resmi otoritas Palestina. Data ini mencerminkan pola peningkatan frekuensi dan intensitas serangan dalam beberapa bulan terakhir.
Bagi Indonesia, perkembangan ini tidak hanya menjadi kekhawatiran kemanusiaan tetapi juga memiliki dimensi diplomatis yang nyata. Jakarta secara historis konsisten mendukung perjuangan Palestina di forum PBB dan ASEAN, dan kekerasan yang meningkat dapat memicu reaksi publik yang lebih kuat serta mendorong pemerintah untuk mengambil sikap diplomatis yang lebih tegas di PBB dan OKI. Selain itu, terdapat sekitar 1.500 pekerja Indonesia yang tinggal di Israel dan wilayah sekitarnya, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi keselamatan dan hak-hak warga Indonesia di luar negeri.
Wali Kota Qusra, Abdel Azim Wadi, menyatakan, "Para pemukim datang dengan marah dan menghancurkan segala yang kami bangun, seolah mereka ingin menghapus harapan kami." Seorang sumber keamanan Palestina menambahkan, "Mereka tidak hanya merusak properti, tetapi juga meninggalkan pesan kebencian dengan grafiti yang mengancam balas dendam terhadap warga Arab."
Analis menilai bahwa serangan ini merupakan bagian dari strategi pemukim untuk memperluas kendali atas lahan yang dianggap strategis, dengan memanfaatkan ketegangan keamanan yang sedang berlangsung. Dukungan militer yang diberikan kepada pemukim, menurut pengamat, menciptakan kesan impunitas yang mendorong tindakan ekstrem lebih lanjut.
Ke depan, komunitas internasional diperkirakan akan meningkatkan tekanan pada pemerintah Israel untuk membatasi aktivitas pemukim, sementara otoritas Palestina mungkin akan meminta intervensi yang lebih kuat dari PBB. Jika kekerasan berlanjut, risiko penyebaran konflik ke negara-negara tetangga dan dampak terhadap warga Indonesia di wilayah tersebut akan semakin besar, sehingga memerlukan perhatian dan tindakan yang terkoordinasi dari Jakarta dan mitra-mitra diplomatiknya.
Perkembangan ini mengingatkan dunia bahwa konflik Israel-Palestina masih jauh dari solusi yang berkelanjutan, dan bahwa masyarakat sipil di mana pun, termasuk Indonesia, harus terus memantau dan terlibat dalam upaya diplomasi untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.