Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah melampaui batas lima bulan tanpa menunjukkan tanda-tanda pelesetan. Situasi ini menempatkan Presiden Donald Trump pada posisi yang semakin sulit, baik di meja diplomasi maupun di ranah politik domestik. Menurut laporan Wall Street Journal, sejumlah penasihat dekat mengakui Trump semakin frustrasi dan skeptis soal prospek perdamaian abadi di Timur Tengah.
Kebuntuan militer itu berdampak langsung pada elektabilitas. Kenaikan harga energi akibat ketidakstabilan wilayah merusak daya beli rakyat, mengikis angka kepuasan publik terhadap Trump, serta mengancam prospek Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu mendatang. Seorang pejabat senior mengungkapkan bahwa Trump berkeyakinan keras: satu-satunya bahasa yang dipahami Iran adalah kekuatan militer, dan ia kini berada dalam "mode balas dendam" terhadap Teheran.
Latar belakang eskalasi ini bermula dari serangkaian serangan timbal balik sejak awal tahun, yang dipicu oleh program nuklir Iran dan dukungan Teheran bagi proksi di wilayah tersebut. AS merespons dengan mengerahkan armada tambahan, sistem pertahanan udara, dan ribuan personel ke pangkapan-pangkapan strategis di Teluk Persia dan Laut Merah. Namun, setiap ronde serangan justru memperdalam lubang kepercayaan antara Washington dan sekutunya.
Ironisnya, sekutu paling dekat justru menjadi sumber gesekan baru. Hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang awalnya harmonis, kini memasuki fase beku. Pejabat senior yang memilih anonim mengonfirmasi Trump menolak berbicara maupun bertemu Netanyahu dalam minggu-minggu terakhir. Ketidaksepakatan soal strategi keluar perang dan manajemen risiko eskalasi menjadi pemicu retaknya sumbu Washington-Tel Aviv.
Di sisi lain, ancaman keamanan pribadi Trump melonjak drastis. Badan intelijen AS memperingatkan adanya rencana pembunuhan yang dikaitkan dengan agen Iran. Saat menghadiri KTT NATO di Turki, intelijen Israel menyerahkan data soal dugaan komplotan pembunuhan. Meskipun kredibilitasnya diprotes oleh pejabat AS, Trump terpaksa berganti pesawat — memilih Air Force One model lama dibandingkan jet hadiah Qatar — demi mitigasi risiko.
Kebocoran alasan pergantian pesawat itu ke New York Times memicu amarah Trump. Ia menilai pelaporan itu menciptakan celah keamanan baru, sementara aparatnya sibuk melacak sumber bocoran di dalam lingkaran terdekat. Insiden ini memperparah paranoia keamanan di lingkungan Oval Office.
Dampak ekonomi terasa hingga ke level pom bensin. Trump mendesak penurunan harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu, sebuah tekanan politis yang kontradiktif dengan realitas pasar minyak global yang volatil akibat perang. Penasihat ekonomi justru mengingatkan soal risiko inflasi jangka panjang, namun Trump tampak memprioritaskan narasi harga murah untuk basis pemilih.
Bagi Indonesia, geopolitik Timur Tengah ini bukan sekadar berita jarak jauh. Sebagai negara impor neto minyak dan gas, kenaikan harga energi global langsung menggerus anggaran subsidi BBM dan menikam daya beli rumah tangga. Volatilitas harga minyak juga memengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal asing ke pasar obligasi domestik.
Ketergantungan Indonesia pada impor pupuk berbasis gas dan bahan baku petrokimia membuat rantai pasok rentan terhadap gangguan jalur laut di Hormuz. Jika eskalasi meluas ke blokade selat strategis, harga pupuk dan plastik domestik bisa melonjak, mengancam ketahanan pangan dan industri hilir.
Diplomatik, Indonesia yang menjabat ketua non-blok di forum-forum internasional memiliki ruang untuk mendorong deseskalasi. Jakarta bisa memanfaatkan posisi netral untuk mengajak pihak-pihak berkonflik ke meja dialog, sekaligus memperkuat kerjasama ekonomi dengan negara-negara Teluk yang juga khawatir pada ketidakstabilan.
Masa depan konflik ini tetap kabur. Trump menghadapi pilihan sulit: eskalasi militer yang mahal dan berisiko, atau diplomasi yang dianggap lemah oleh basis konservatifnya. Pemilihan paruh waktu November akan menjadi referendum tersirat atas kebijakan luar negerinya. Jika Partai Republik kehilangan kontrol Kongres, ruang manuver Trump akan menyempit drastis.
Sementara Iran, yang merasa dikepung sanksi dan tekanan militer, cenderung memperkuat jaringan proksi dan program nuklir sebagai alat barganing. Siklus balas dendam ini menciptakan jebakan keamanan klasik di mana tidak ada pihak yang berani mundur dulu. Untuk Indonesia dan dunia, kuncinya ada pada upaya diplomasi multilateral yang melibatkan China, Rusia, dan Uni Eropa untuk memaksa deeskalasi bertahap.