FIFA belum menetapkan lokasi final Piala Dunia 2030 yang akan digelar tiga negara, Maroko, Portugal, dan Spanyol. Persaingan memperebutkan hak menyelenggarakan laga puncak itu kini memanas antara Maroko dan Spanyol melalui lobi diplomatik dan infrastruktur stadion raksasa.
New York akan menjadi sorotan dunia pada final Piala Dunia 2026, namun perhatian sudah bergeser ke edisi 2030 di mana venue final masih menjadi teka-teki. Spanyol menegaskan bahwa mereka berhak atas pertandingan penentu juara tersebut, sementara Maroko menyiapkan proyek stadion termahal dan terbesar di dunia sebagai senjata utama.
Konflik kepentingan ini bermula dari struktur penyelenggaraan 2030 yang dibagi ke tiga negara. FIFA memberikan mandat bersama kepada Maroko, Portugal, dan Spanyol, tetapi keputusan venue final belum diumumkan secara resmi. Hal itu membuka ruang bagi negosiasi tertutup yang kini berkembang menjadi persaingan pengaruh di tingkat federasi dan pemerintahan.
Maroko tidak sekadar mengandalkan status tuan rumah. Negara itu membangun Stadion Hassan II di luar Casablanca dengan kapasitas 115.000 kursi dan nilai investasi mencapai 12 miliar dollar AS. Proyek tersebut diproyeksikan rampung akhir tahun depan dan bakal menjadi stadion terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Di sisi Spanyol, dua opsi stadion disiapkan untuk final. Estadio Santiago Bernabeu di Madrid telah selesai direnovasi akhir 2024 dengan kapasitas 83.000 tempat duduk. Camp Nou di Barcelona juga diajukan meski renovasinya tertunda dan baru akan menampung 105.000 penonton setelah pekerjaan tuntas.
Persaingan ini mencerminkan tren baru dalam penyelenggaraan turnamen besar di mana infrastruktur menjadi instrumen diplomasi. Bagi Indonesia, situasi tersebut menyoroti betapa jauhnya gap pembangunan fasilitas olahraga kita dibanding negara berkembang seperti Maroko. Stadion utama di Tanah Air masih berkutat pada renovasi venue lama pembuatan fasilitas bertaraf global.
Dampaknya bagi penggemar sepak bola Indonesia adalah munculnya standar baru tentang pengalaman menonton dan penyelenggaraan event internasional. Ketika Maroko bisa membangun stadion 115.000 kursi, aspirasi Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 atau even besar lainnya harus dibarengi dengan komitmen infrastruktur nyata, bukan sekadar deklarasi politik.
Komparasi dengan Indonesia juga terlihat pada kesiapan operasional. Maroko baru saja menyelesaikan Stadion Pangeran Moulay Abdallah berkapasitas 69.500 kursi di Rabat. Sementara kita kerap menghadapi kendala pemeliharaan dan keterlambatan proyek stadion menjelang turnamen multinasional.
Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, Rafael Louzan, memicu kontroversi pada Januari lalu dengan pernyataan bahwa Spanyol pasti memegang final. Ia memanfaatkan kerusuhan saat final Piala Afrika di Maroko sebagai argumen. “Maroko sedang bertransformasi, namun beberapa adegan di Piala Afrika merugikan citra sepak bola dunia,” ujar Louzan merujuk insiden kekerasan penonton dan aksi walk-off saat Senegal mengalahkan Maroko di Rabat.
Fouzi Lekjaa, Presiden Federasi Sepak Bola Maroko yang berpengaruh kuat, memilih tidak membalas secara terbuka. “Belum ada keputusan soal pembagian laga. Semua melalui konsultasi tiga negara dan FIFA,” katanya di televisi negara. Namun sumber internal sepak bola Afrika menyebut Maroko menggencarkan lobi agar Casablanca terpilih.
Jika Casablanca dipilih, itu menjadi kali kedua kota Afrika menjamu final Piala Dunia setelah Johannesburg 2010, di mana Spanyol merebut gelar perdana mereka. Sebaliknya, Spanyol pernah menggelar final 1982 di Santiago Bernabeu saat Italia menundukkan Jerman Barat 3-1.
Lobi intens diperkirakan meningkat mendekati pengumuman FIFA. Maroko mengandalkan besaran dan kemegahan stadion, sementara Spanyol memainkan kartu pengalaman dan stabilitas organisasi. Bagi industri sepak bola, pertarungan ini akan menentukan arah distribusi kekuasaan tuan rumah di era turnamen bersama antarnegara.