Fortaleza — Sebuah kasus perbudakan modern yang menghebohkan Brasil kembali menyingkap sisi gelap struktur sosial yang mengakar kuat di negeri Samba tersebut. Maria — nama samaran untuk melindungi identitasnya — dibebaskan pada usia 62 tahun setelah menghabiskan lebih dari setengah abad hidup dalam kondisi mirip perbudakan di rumah keluarga Brasil di Fortaleza, bagian timur laut Brasil. Dia dimasukkan ke rumah tangga tersebut pada usia 7 tahun, sekitar tahun 1971, dan selama 55 tahun tidak pernah menerima upah, cuti, maupun kesempatan belajar membaca dan menulis.
Penyelamatan dilakukan oleh Kantor Jaksa Agung Ketenagakerjaan (MPT) Brasil berkat laporan anonim, yang menurut otoritas semakin sering terjadi seiring meningkatnya kesadaran publik. Maria dieksploitasi oleh tiga generasi keluarga Brasil: pertama oleh sepasang pensiunan, lalu oleh seorang pengacara dan pegawai sipil, dan terakhir oleh seorang dokter hewan dan pegawai sipil lainnya. Keluarga ini, yang kulit putih dan menganut nama marga "Brasil" — detail simbolis bagi negara yang baru menghapuskan perbudakan resmi pada 1888 — diduga juga menyita bantuan sosial Bolsa Família sebesar R$ 600 (sekitar US$ 115) per bulan yang seharusnya menjadi hak Maria.
Kasus ini mengungkap profil korban perbudakan domestik yang sistemik: perempuan, miskin, dan kemungkinan besar berkulit hitam. Statistik menunjukkan lebih dari enam juta perempuan Brasil bekerja sebagai pekerja rumah tangga, dan baru sekitar satu dekade lalu mereka memperoleh hak buruh penuh melalui Undang-Undang Pekerja Domestik (PEC das Domésticas) 2013. Maria tidak pernah mengelola uang, tidak punya rekening bank, teman, maupun kebebasan bergerak. "Dia hidup dalam semacam penjara," ujar Maria Neuzeli, jaksa khusus pemberantasan perbudakan domestik. "Dia tidak kenal kota, takut pada kekerasan di luar, dan merasa pakaian, makanan, serta tempat tinggal sudah membayar jasanya."
Kontroversi muncul setelah otoritas memutuskan Maria tetap tinggal dengan keluarga pengeksploitasi sementara mencari keluarganya biologis. Luciano Aragão Santos, koordinator nasional pemberantasan perbudakan, mengakui kompleksitas penyelamatan di setting domestik: korban sering kehilangan otonomi, terputus dari ikatan keluarga, dan ditolak akses kesehatan dan pendidikan. Pengeluaran mendadak tanpa jaringan dukungan terstruktur justru berisiko merugikan korban. Keluarga Brasil telah menyetujui kompensasi berupa apartemen senilai US$ 30.000 lengkap perabotan serta US$ 10.000 tunai, namun menolak tuduhan perbudakan dan mengklaim hubungan "kebersamaan, perawatan, dan kasih sayang" selama puluhan tahun.
Kasus Maria mengingatkan pada kasus Madalena Gordiano yang dibebaskan pada 2021 setelah 38 tahun perbudakan. Madalena kemudian meraih kemerdekaan penuh, menikmati laut, mengikuti kelas Zumba, dan berbagi kehidupan baru di media sosial. Perbedaan nasib keduanya menyoroti urgensi rehabilitasi jangka panjang, bukan sekadar penyelamatan fisik. Brasil, negara dengan populasi keturunan Afrika terbesar di luar Afrika, masih berjuang dengan warisan perbudakan yang termanifestasi dalam hierarki rasial dan kelas di ruang domestik. Adanya lift sosial dan lift pelayanan di gedung apartemen modern, serta kamar pembantu yang semakin jarang namun masih ada, menjadi bukti fisik struktur tersebut.
Ahli hukum dan aktivis HAM menilai kasus ini sebagai momentum krusial untuk mengevaluasi efektivitas Undang-Undang Pekerja Domestik dan mekanisme pengawasan. Meskipun hukum telah mengakui hak-hak dasar seperti jam kerja 44 jam per minggu, cuti tahunan, dan tunjangan hari tua, penerapan di ruang privat rumah tangga tetap sulit diawasi. Inspektorat kerja tidak berwenang memasuki rumah tanpa izin hakim, menciptakan celah hukum yang dieksploitasi pelaku. Kasus ini juga membuka diskusi tentang perlindungan saksi dan pelapor, mengingat peran laporan anonim yang krusial.
Dari perspektif ekonomi, perbudakan domestik menanggung biaya oportunitas masif bagi jutaan perempuan yang dikecualikan dari pendidikan, pasar kerja formal, dan akumulasi aset. Maria, yang seharusnya sudah pensiun dan menikmati prioritas lanjut usia di transportasi publik dan bandara, justru kehilangan seluruh masa produktifnya tanpa jaminan sosial. Program Bolsa Família yang dirancang untuk memutus siklus kemiskinan justru disinyalir disalahgunakan oleh penindas, mengindikasikan kegagalan pengawasan lintas sektor.
Masyarakat sipil menuntut agar kasus Maria tidak hanya berakhir pada kompensasi finansial, melainkan mendorong reformasi sistemik: penguatan inspeksi kerja, layanan rehabilitasi terpadu untuk korban, dan edukasi hak asasi manusia sejak dini. Seperti yang dikatakan aktivis: "Membebaskan satu orang adalah kemenangan hukum, tapi mengubah sistem yang memungkinkan perbudakan berlangsung 55 tahun adalah kemanusiaan." Nasib Maria kini bergantung pada komitmen negara untuk memastikan dia tidak hanya 'dibebaskan', tapi benar-benar merdeka.