Krisis persediaan amunisi pertahanan udara Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah telah mencapai titik kritis. Menurut data internal Pentagon yang diperoleh CNN, Angkatan Udara AS telah mengeluarkan hampir empat perlima dari total rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang tersedia sebelum perang, serta sekitar 50 persen pencegat Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) dan MSE sejak awal konfrontasi dengan Iran. Angka-angka ini mengkonfirmasi kekhawatiran para komandan senior selama berbulan-bulan: laju pembakaran munisi jauh melebihi kapasitas produksi dan pengisian ulang.
Ketidakseimbangan itu memaksa Pentagona membuat keputusan taktis yang sulit. Beberapa baterai THAAD ditarik mundur dari posisi depan untuk menjaga sisa stok, sementara sistem Patriot digeser untuk menutupi celah pertahanan titik vital. Sumber militer yang tidak ingin disebut namanya mengungkapkan bahwa "hampir semua" rudal permukaan-ke-udara jarak jauh presisi tinggi — termasuk varian Extended Range — telah terpakai dalam operasi penangkapan rudal balistik dan drone swarm Iran sejak awal tahun ini.
Latar belakang krisis ini adalah strategi Iran yang sengaja menguras pertahanan lawan melalui serangan saturasi. Teheran melancarkan gelombang drone murah dan rudal balistik jangka menengah secara bersamaan, memaksa sistem THAAD dan Patriot menembak pencegat yang harganya puluhan kali lipat targetnya. CSIS memperkirakan AS memulai konflik dengan 452 rudal THAAD dan 2.200 rudal Patriot varian terbaru. Pada laju penggunaan saat ini, stok THAAD bisa habis dalam bulan-bulan mendatang jika intensitas serangan tidak mereda.
Dampaknya melampaui garis depan AS. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar — yang bergantung pada payung pertahanan AS dan membeli sistem Patriot sendiri — kini menghadapi realitas kekurangan amunisi global. Beberapa pejabat pertahanan negara sekutu mengakui bahwa pengiriman rudal Patriot baru yang dipesan tahun lalu tertunda tak pasti karena lini produksi Lockheed Martin dan Raytheon diprioritaskan untuk kebutuhan AS dan Ukraina. Hal ini menciptakan kerentanan strategis jika Iran membalas dengan skala penuh.
Kekhawatiran logistik ini langsung memengaruhi keputusan politik di Washington. Akhir pekan lalu, Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan balasan besar terhadap fasilitas nuklir dan petrokimia Iran setelah para penasihat militer — termasuk Kepala Staf Angkatan Darat dan Komandan Pusat Angkatan Udara Timur Tengah — memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut akan mengosongkan cadangan rudal pertahanan untuk melindungi pasukan AS dan sekutu di wilayah tersebut. Keputusan itu menandai langka kali pertimbangan logistik amunisi menentukan kebijakan perang di tingkat presiden.
Analis pertahanan menilai situasi ini membuka babak baru dalam doktrin pertahanan udara AS. Selama dekade, Pentagon mengandalkan keunggulan kualitatif sistem THAAD dan Patriot tanpa mempersiapkan kedalaman stok untuk perang konsumtif berkepanjangan. Perang Ukraina sudah memperlihatkan celah serupa pada rudal antirudal dan artileri presisi, namun respons industri pertahanan AS tetap lambat: lini produksi PAC-3 MSE baru diperluas 2025, sedangkan THAAD masih bergantung pada fasilitas tunggal di Alabama dengan kapasitas terbatas.
Di sisi Iran, kebijakan "pertahanan aktif" melalui produksi massal drone Shahed-136/131 dan rudal balistik Kheibar Shekan/Fattah terbukti efektif secara ekonomi. Setiap rudal THAAD yang ditembakkan — harganya sekitar 15 juta dolar — untuk menembak drone bernilai 20.000 dolar menciptakan rasio biaya yang tidak berkelanjutan. Iran juga mulai mengeksploitasi celah cakupan radar dengan terbang rendah dan manuver acak, memaksa sistem AS menembak lebih banyak pencegat per target.
Kendati demikian, AS tidak diam. Pentagon telah mengaktifkan prosedur darurat "Urgent Material Release" untuk mempercepat pengiriman rudal Patriot dari cadangan pasukan darat di Eropa dan Korea Selatan ke Timur Tengah. Raytheon dikontrak untuk mempercepat produksi motor roket dan seeker PAC-3 MSE dengan insentif bonus pengiriman cepat. Namun, rantai pasok komponen kritis — terutama chip tahan radiasi dan bahan kimia propelan khusus — tetap menjadi hambatan struktural yang tidak bisa diselesaikan dalam bulan-bulan.
Komandan Pusat Angkatan Udara Timur Tengah, Jenderal Alexus Grynkewich, dalam rapat tertutup dengan pejabat pertahanan negara Teluk minggu lalu, menegaskan bahwa AS tetap berkomitmen melindungi sekutu. Ia mengungkapkan rencana penempatan sistem pertahanan udara tambahan, termasuk baterai NASAMS dan sistem laser taktis eksperimental, untuk mengurangi beban THAAD dan Patriot. Namun, sistem-sistem itu baru siap operasi penuh tahun depan dan tidak memiliki jangkau serta kemampuan tangkal rudal balistik setara THAAD.
Sementara itu, Israel — yang memiliki sistem Arrow-3, David's Sling, dan Iron Dome sendiri — memantau perkembangan ini dengan cemas. Meskipun mandiri dalam produksi pencegat, Israel bergantung pada sensor dan data satelit AS untuk peringatan dini rudal balistik Iran. Jika stok rudal AS habis dan sensor tarik mundur, kemampuan pertahanan Israel juga terpengaruh. Koordinasi trilatera AS-Israel-negara Teluk kini difokuskan pada berbagi beban penangkapan: Israel tangani rudal balistik, AS dan sekutu tangani drone dan rudal cruise.
Mengarah ke depan, krisis amunisi ini kemungkinan besar akan memaksa pembaruan doktrin dan anggaran pertahanan AS. Kongres sudah mendorong Pentagon untuk membangun cadangan "deep magazine" rudal pertahanan udara setara minimal enam bulan perang intensif, serta mendiversifikasi suplai dengan melibatkan produsen sekutu seperti MBDA Eropa dan Mitsubishi Heavy Industries Jepang. Bagi Iran, keberhasilan menguras pertahanan lawan tanpa konflik langsung menjadi model asimetris yang akan terus dikembangkan, termasuk melalui proliferasi teknologi drone dan rudal ke proksi di Yaman, Irak, dan Suriah.