Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya mengapresiasi pagelaran opera dan konser musik bertajuk Tona Sian Huta yang diselenggarakan di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Menurutnya, acara ini tidak hanya memperkuat pelestarian budaya Batak, tetapi juga membuka peluang nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah melalui industri kreatif. "Budaya merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Ketika budaya dikelola dengan baik, dikemas secara kreatif, dan diperkenalkan kepada generasi muda, maka budaya dapat menjadi sumber inspirasi, kebanggaan, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi," ujar Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Pagelaran yang melibatkan seniman, musisi, pengrajin, pelaku kuliner, event organizer, dan berbagai sektor pendukung ini mencerminkan kolaborasi yang dapat mengubah potensi budaya menjadi nilai tambah. Riefky menekankan bahwa pertunjukan Tona Sian Huta menjadi salah satu contoh bagaimana seni pertunjukan, musik, dan kreativitas dapat bersatu membentuk ekosistem kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja serta menggerakkan ekonomi lokal. “Pertunjukan ini menjadi kekuatan besar Indonesia yang tak sekadar melekat pada identitas berbangsa, tetapi juga membuka peluang menarik bagi pengembangan ekonomi kreatif dari Tanah Batak,” katanya.
Acara ini menampilkan beragam talenta, mulai dari stand‑up komedian Joel Purba, 27 penampil opera, hingga 30 musisi lokal dan nasional seperti Maria Simorangkir, Victor Hutabarat, dan Style Voice. Sebanyak 50 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga turut serta menyajikan produk kreatif di bidang kuliner, kerajinan, dan fesyen, menunjukkan harmoni kearifan lokal yang kuat.
Lamhot Sinaga, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI yang juga inisiator acara, menyatakan, “Opera Batak adalah aset budaya yang sangat berharga. Melalui Tona Sian Huta, kami ingin menghidupkan kembali warisan budaya Batak sekaligus menjadikan budaya, ekonomi kreatif, pariwisata, dan UMKM sebagai satu ekosistem yang mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat Danau Toba.”
Penyelenggaraan acara ini sejalan dengan Peraturan Presiden tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026‑2045 yang baru disahkan. Kebijakan ini memberikan arah bagi pengembangan industri kreatif yang berkelanjutan dan inovatif, sehingga potensi budaya seperti yang ditampilkan dalam Tona Sian Huta dapat menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Kolaborasi lintas sektor yang terlihat dalam pagelaran ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam memanfaatkan budaya sebagai mesin pertumbuhan.
Mengapa hal ini penting bagi industri teknologi di Indonesia? Pertumbuhan ekonomi kreatif yang berbasis budaya membuka peluang bagi pengembangan platform digital, mulai dari pemasaran produk UMKM hingga layanan streaming pertunjukan seni. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, talenta lokal dapat lebih mudah mengakses pasar global melalui teknologi, sehingga meningkatkan kontribusi sektor kreatif terhadap PDB nasional. Selain itu, integrasi budaya dan teknologi dapat memperkuat identitas digital Indonesia di tengah persaingan ekonomi kreatif dunia.
Ke depan, sinergi antara pelestarian budaya, pengembangan industri kreatif, dan adopsi teknologi diharapkan terus meningkat. Masyarakat diajak untuk bersama‑sama mengembangkan ekonomi kreatif melalui kolaborasi yang kuat, sehingga budaya Batak dan warisan budaya Indonesia lainnya tetap hidup dan menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi mendatang.