Bisnis & Startup

Perusahaan TI India Hadapi Kuartal Lesu Akibat Tekanan AI dan Lemahnya Permintaan

Perusahaan TI India Hadapi Kuartal Lesu Akibat Tekanan AI dan Lemahnya Permintaan

Ringkasan

  • Sektor TI India menghadapi tantangan berat di kuartal pertama akibat pergeseran ke AI, penurunan belanja klien, dan ketidakpastian ekonomi global.

Sektor teknologi informasi (TI) India, yang memiliki nilai pasar mencapai USD 315 miliar, diprediksi akan kembali mencatatkan kinerja kuartal yang kurang memuaskan. Berdasarkan analisis dari sembilan perusahaan pialang, tekanan harga yang dipicu oleh adopsi kecerdasan buatan (AI), penurunan belanja klien, serta ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan sektor ini.

Secara historis, periode April hingga Juni seharusnya menjadi momentum kuat bagi industri TI di India, didukung oleh peningkatan hari penagihan dan dimulainya berbagai proyek baru. Namun, para analis menilai bahwa awal tahun fiskal ini akan berjalan lambat. Kondisi ini sekaligus memupus harapan pemulihan cepat bagi perusahaan-perusahaan besar seperti Tata Consultancy Services (TCS), Infosys, HCLTech, dan Wipro.

Data menunjukkan bahwa meskipun enam perusahaan TI terbesar di India diproyeksikan mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan sekitar 14 persen dalam mata uang rupee, angka tersebut sebagian besar terbantu oleh depresiasi nilai tukar rupee. Jika efek mata uang diabaikan, pertumbuhan pendapatan dalam kurs konstan diperkirakan hanya mencapai 2,8 persen, sebuah angka yang mencerminkan stagnasi kinerja yang nyata.

Transformasi digital kini menjadi tantangan berat bagi sektor TI karena perusahaan global mulai beralih menggunakan alat berbasis AI untuk memangkas biaya dan mempercepat siklus pengembangan perangkat lunak. Perusahaan perangkat lunak di India bahkan telah memperlambat rekrutmen tenaga kerja baru. Chairman TCS, N Chandrasekaran, bahkan memberikan sinyal bahwa perusahaan mungkin akan memiliki jumlah agen AI yang setara dengan jumlah karyawan di masa mendatang.

Nomura menyebut situasi ini sebagai "badai sempurna" bagi industri TI India. Ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah telah memperparah tekanan harga yang disebabkan oleh disrupsi AI. Akibat kekhawatiran bahwa AI akan merusak model bisnis padat karya yang selama ini menjadi andalan, indeks Nifty IT tercatat anjlok sebesar 9,5 persen selama kuartal Juni, menjadikannya sektor dengan kinerja terburuk di India sepanjang tahun 2026.

Selain disrupsi teknologi, investor kini menaruh perhatian besar pada proyeksi pendapatan tahunan yang akan dirilis perusahaan. Ada kekhawatiran bahwa Infosys dan HCLTech akan menurunkan target pendapatan mereka. Selain itu, potensi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, yang menyumbang sekitar 60 persen dari pendapatan sektor TI India, menjadi ancaman tambahan yang membayangi stabilitas keuangan industri ini dalam jangka panjang.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menjadi pengingat bagi perusahaan teknologi di Indonesia mengenai pergeseran model bisnis dari padat karya menjadi berbasis otomasi AI. Dampak dari perlambatan sektor TI global ini juga bisa memengaruhi rantai pasok layanan perangkat lunak dan strategi investasi perusahaan lokal yang bergantung pada mitra teknologi internasional.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit