Pemerintah China baru saja meluncurkan serangkaian kebijakan strategis untuk memperketat kendali atas harga litium global. Langkah ini dipandang sebagai upaya nyata Beijing untuk mengamankan keunggulan kompetitif dalam rantai pasokan material kritis yang sangat vital bagi industri kendaraan listrik dan penyimpanan energi, sekaligus menantang dominasi pasar Amerika Serikat.
Dalam kebijakan terbaru yang diumumkan oleh otoritas terkait, pelaku industri global kini diberikan akses untuk melakukan perdagangan litium karbonat di pasar domestik China. Keputusan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya upaya global dalam mengamankan cadangan bahan tambang, di mana China ingin memastikan bahwa mereka tetap menjadi pemegang kendali utama dalam penetapan harga acuan.
Efektif per 3 Juli, Guangzhou Futures Exchange, yang merupakan salah satu bursa komoditas terbesar di China, secara resmi membuka pintu bagi perusahaan pertambangan, produsen baterai, serta pedagang internasional untuk melakukan transaksi kontrak berjangka dan opsi litium karbonat. Kebijakan ini mempercepat jadwal yang sebelumnya direncanakan, di mana akses untuk investor institusi asing baru dijadwalkan pada Maret 2025.
Dalam mekanisme perdagangan baru ini, investor asing diizinkan menggunakan mata uang dolar AS sebagai margin jaminan. Namun, untuk proses transaksi inti dan penyelesaian akhir (settlement), seluruhnya harus didenominasikan dalam mata uang yuan China. Hal ini menunjukkan ambisi Beijing untuk meningkatkan internasionalisasi yuan di pasar komoditas strategis dunia.
Lucas Zhang Liutong, direktur dari firma konsultan WaterRock Energy Economics yang berbasis di Hong Kong, menyatakan bahwa langkah ini sangat logis bagi China. Sebagai importir utama bahan baku energi, China memiliki kepentingan strategis untuk memiliki pengaruh besar dalam menentukan harga patokan global yang selama ini sering kali ditentukan di pasar Barat.
Lebih lanjut, inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan secara signifikan di bursa domestik China. Dengan meningkatnya partisipasi aktor internasional, peran China sebagai pusat penetapan harga litium karbonat dunia diharapkan akan semakin kokoh, sekaligus memitigasi risiko volatilitas harga yang dapat merugikan industri manufaktur baterai dalam negeri mereka.