TEMPO.CO, Jakarta - Lantunan ayat-ayat Al-Quran yang mengiringi prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Balai Mosalla Imam Khomeini, Teheran, pada 4 Juli 2026, ternyata menyimpan lapisan makna yang melampaui ritual keagamaan semata. Hadirin lebih dari 30 delegasi asing menyaksikan bagaimana Iran mengubah momen duka menjadi panggung diplomasi yang terstruktur, di mana pemilihan surat dan ayat spesifik disesuaikan dengan dinamika hubungan bilateral masing-masing negara. Menurut laporan Kashmir Observer dan Middle East Eye, strategi ini mengonfirmasi bahwa bagi Republik Islam, teks suci berfungsi sebagai bahasa diplomatik yang presisi untuk mengirimkan sinyal politik kepada mitra, saingan, dan kekuatan global sekaligus.
Ketika delegasi Arab Saudi memasuki area altar, panitia memilih Surat Ali Imran ayat 13 yang mereferensikan Perang Badar—peristiwa kemenangan kecil muslimin melawan pasukan Mekkah yang jauh lebih besar. Para analis menilai ini sebagai analogi langsung: Iran memposisikan konfrontasi terbarunya dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai replika kemenangan Badar. Secara simultan, ayat ini berfungsi sebagai sindiran halus bagi Riyadh yang dianggap bersandar dekat pada Washington selama konflik berlangsung, mengingatkan bahwa ketekunan iman—bukan sekadar superioritas militer—adalah penentu kemenangan akhir.
Berbeda dengan nada konfrontatif untuk Saudi, delegasi Qatar disambut dengan ayat-ayat Surah Al-Fath yang berkaitan dengan Perjanjian Hudaybiyyah—sebuah kesepakatan damai yang awalnya dianggap merugikan namun berujung pada kemenangan strategis. Pemilihan ini mencerminkan apresiasi Teheran atas peran Doha sebagai fasilitator negosiasi regional dan jembatan komunikasi dengan Washington. Iran mengakui bahwa diplomasi Qatar selaras dengan roh Hudaybiyyah: pragmatis, menahan amarah demi kepentingan jangka panjang, dan berhasil menciptakan ruang dialog di tengah tekanan maksimum.
Bagi Pakistan, ayat yang dilantunkan berasal dari Surat Al-Isra ayat 80: "Ya Tuhanku, berilah aku jalan masuk yang benar dan jalan keluar yang benar, dan berilah aku dari sisi-Mu kekuasaan yang mendukung." Doa permohonan petunjuk dan otoritas ini ditafsirkan sebagai pengakuan Iran atas peran aktif Islamabad dalam diplomasi shuttle selama krisis. Pakistan, yang sering berperan sebagai pemoderat di dunia Islam, dipandang Iran sebagai mitra yang berusaha menemukan "jalan keluar" damai dari eskalasi militer.
Sementara untuk Turki, pilihan jatuh pada Surat An-Nisa ayat 95 yang membedakan orang-orang berjihad dengan harta dan jiwa mereka versus orang-orang yang duduk diam. Ayat ini ditafsirkan sebagai penghargaan atas komitmen praktis Ankara yang, meski tidak terlibat militer, aktif menjalin komunikasi intensif dengan Teheran. Iran menegaskan bahwa aksi diplomatik nyata lebih bernilai dibanding retorika semata, mengakui posisi unik Turki sebagai anggota NATO yang mempertahankan saluran terbuka dengan Iran.
Dalam kategori sekutu strategis—Rusia, China, India, serta Hizbullah—nada ayat beralih menjadi lebih lunak, penuh ketenangan, dan bebas dari retorika peperangan. Rusia menerima Surah Al-Qashash ayat yang berbicara tentang kesederhanaan dan penolakan terhadap tirani, pesan yang dibaca sebagai pengingat bagi Moskow untuk menjaga integritas sebagai kekuatan global yang bertanggung jawab. China dan India serta Hizbullah menerima potongan Surah Ali Imran ayat 126: "Allah tidak menjadikan (bantuan malaikat) itu melainkan sebagai kabar gembira... dan agar hatimu menjadi tenteram." Menariknya, untuk India, ayat dipotong selektif—menghilangkan konteks ayat sekitarnya tentang syuhada dan orang zalim—menjadikan pesan murni sebagai semangat dan ketenangan, bukan panggilan perlawanan.
Upacara ini membuktikan bahwa pemakaman Khamenei difungsikan sebagai demonstrasi kekuatan lunak (soft power) untuk membantah narasi isolasi Iran pasca-konflik dengan AS-Israel. Analis politik Irak, Mohammed Hassan Bahrani, menegaskan pada Alahad TV-EN bahwa variasi ayat bukan doa kolektif, melainkan "surat-surat terpisah" yang dikirimkan ke masing-masing kapitalse. Pola ini konsisten dengan praktik Iran sebelumnya: Juru Bicara Kemenlu Esmail Baghaei mengutip Surah Al-Mujadila menanggapi ancaman Trump, dan penerus Mojtaba Khamenei mengutip Surah Al-Fath pada hari ke-40 masa berduka untuk menegaskan legitimasi kepemimpinan baru.
Diamnya Teheran yang sengaja tidak mengeluarkan penjelasan resmi justru memperkuat efektivitas diplomasi simbolik ini. Dengan membiarkan publik dan pengamat global yang menafsirkan, Iran menciptakan ruang ambiguitas strategis—di mana pesan dapat dibaca sebagai ancaman, ajakan damai, atau pengakuan legitimasi—tergantung kebutuhan audiens. Bagi Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dan penggerak Non-Blok, dinamika "Diplomasi Al-Quran" ini menawarkan pelajaran vital: narasi agama dalam politik luar negeri bukan sekadar retorika domestik, melainkan instrumen geopolitik yang terukur, fleksibel, dan berdampak nyata pada tata kelola regional.