Internasional

Pesawat Amfibi Kenmore Air Jatuh di Washington, 11 Penumpang Selamat

Ringkasan

  • Sebelas penumpang pesawat amfibi Kenmore Air selamat setelah pesawat de Havilland DHC-3 Otter jatuh di Shallow Bay dekat Pulau Sucia, Kepulauan San Juan, Washington, pada Kamis (23/7) sore akibat diduga cuaca buruk.

Pesawat amfibi milik Kenmore Air dengan nomor penerbangan 140 lepas landas dari Lake Union, Seattle, sekitar pukul 16.30 waktu setempat menuju Roche Harbor di Pulau San Juan. Hanya beberapa jam kemudian, pesawat tersebut ditemukan tenggelam di perairan dangkal Shallow Bay, di utara Pulau Orcas dan dekat Pulau Sucia. Seluruh 11 penumpang serta awak berhasil dievakuasi selamat oleh tim search and rescue yang dibantu helikopter LifeFlight.

Kecelakaan terjadi saat cuaca di kawasan Kepulauan San Juan sedang diguyur hujan badai dengan visibilitas rendah. Laporan dari media lokal Fox 13 Seattle menyebutkan angin kencang dan awan tebal yang menyelimuti jalur penerbangan pada saat insiden. Penyebab pasti masih menjadi fokus investigasi National Transportation Safety Board (NTSB) bersama otoritas penerbangan federal.

Kenmore Air merupakan operator penerbangan amfibi tertua di wilayah Pasifik Barat Laut, melayani rute pendek antara pulau-pulau dan kota-kota pesisir sejak 1940-an. Pesawat DHC-3 Otter yang digunakan dikenal kokoh dan mampu mendarat di air, namun keterbatasan instrumen navigasi pada model lama menjadi perhatian ketika cuaca mengejut.

Di Indonesia, penerbangan amfibi juga merupakan bagian vital dari konektivitas kepulauan, terutama di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. Pesawat seperti CN-235 MPA dan N-219 Nurtanio dirancang untuk operasi landasan pendek dan mendarat di perairan, namun regulasi keamanan dan standar pemeliharaan tetap menjadi tantangan besar bagi operator domestik.

Insiden ini mengingatkan industri penerbangan regional bahwa cuaca ekstrem tetap menjadi risiko utama meski teknologi navigasi semakin canggih. Data pelacakan FlightAware menunjukkan helikopter LifeFlight berputar di atas lokasi selama hampir dua jam, menandakan koordinasi evakuasi berjalan cepat namun juga menyoroti keterbatasan akses darat di wilayah kepulauan.

Sprecher Kenmore Air, dalam pernyataan resmi, menegaskan bahwa keselamatan penumpang adalah prioritas utama dan perusahaan akan bekerja sama penuh dengan investigasi. "Kami bersyukur tidak ada korban jiwa dan akan mengevaluasi prosedur operasional demi mencegah kejadian serupa," ujarnya.

Ahli keselamatan penerbangan dari University of Washington, Dr. Maria Gonzales, menilai bahwa kombinasi cuaca buruk dan keterbatasan visual flight rules (VFR) pada pesawat amfibi lama menciptakan skenario berisiko tinggi. Ia menyarankan pemasangan sistem peringatan cuaca real-time dan pelatihan darurat berkala bagi pilot.

Sementara itu, otoritas setempat telah menutup sementara jalur penerbangan sekitar Shallow Bay hingga investigasi selesai. Penumpang yang selamat dikirim ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan medis rutin, meski tidak ada cedera serius yang dilaporkan.

Ke depan, NTSB diharapkan menerbitkan laporan preliminer dalam 30 hari dan rekomendasi keselamatan dalam enam bulan. Hasil investigasi kemungkinan akan memengaruhi standar operasional seluruh operator amfibi di Amerika Serikat, serta menjadi referensi bagi negara kepulauan lain seperti Indonesia.

Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya investasi pada modernisasi armada amfibi, peningkatan infrastruktur bandara kecil, serta penguatan regulasi keselamatan yang selaras dengan standar internasional. Kolaborasi antar negara dalam berbagi data cuaca dan protokol darurat dapat mengurangi risiko serupa di masa mendatang.

Mengapa Ini Penting

Kecelakaan ini menyoroti kerentanan penerbangan amfibi terhadap cuaca buruk, hal yang relevan bagi Indonesia yang bergantung pada mode transportasi serupa untuk menghubungkan pulau-pulau terpencil. Investigasi NTSB akan menghasilkan rekomendasi yang bisa diadopsi oleh Kementerian Perhubungan dan operator domestik seperti Wings Air atau Susi Air. Keberhasilan evakuasi 11 penumpang juga menunjukkan pentingnya koordinasi SAR yang terintegrasi, pelajaran berharga untuk peningkatan kapasitas Basarnas. Jangka panjang, insiden ini mendorong percepatan modernisasi armada amfibi Indonesia agar memenuhi standar keselamatan global.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
24 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit