Kolom Umum

Pesta di Tengah Puing: Kala Dunia Menutup Mata

Ringkasan

  • Di tengah rekor dan pencapaian yang kita rayakan, kita abai pada kekerasan, pelanggaran, dan kebusukan sistemik.
  • Saatnya berhenti berpesta di atas puing.

Ada satu benang merah yang menggelikan sekaligus memilukan dari deretan peristiwa pekan ini: kita semakin pandai merayakan hal-hal kecil, sementara puing-puing kehancuran menumpuk di sudut ruang tunggu yang sama. Seorang pilot Malaysia Airlines ditangkap membawa 26 kilogram MDMA di bandara kita. Seorang pria di Jakarta Barat memukul kekasihnya dengan palu hanya karena cemburu membaca WhatsApp. Di tempat lain, seorang remaja 18 tahun dinobatkan sebagai profesor termuria sepanjang sejarah, sementara sembilan migran tewas tenggelam di perbatasan Ceuta. Kita seolah hidup dalam dua dunia yang berjalan paralel: satu dunia yang berpesta pora dengan rekor dan pencapaian, dan satu dunia lain yang diam-diam membusuk dalam kekerasan dan kegilaan.

Sebagai kolumnis, saya tidak ingin sekadar merangkum rentetan peristiwa ini. Saya ingin mengajak kita berhenti sejenak. Apa yang sedang terjadi dengan nalar publik kita? Mengapa kita begitu mudah terpukau pada rekor Nathan Thomas, tatkala di saat yang sama seorang perempuan 39 tahun meregang nyawa di wahana rumah hantu karena hipertensi dan kondisi jantungnya? Mengapa kita sibuk membahas tukin TNI yang naik hingga 90 persen, sementara anggaran pendidikan masih digantung oleh putusan Mahkamah Konstitusi yang menunda hingga 2028? Ada semacam skizofrenia kolektif yang melanda kita: memuja performa, tetapi abai pada struktur.

Perhatikan kasus pilot MDMA. Ini bukan sekadar kisah oknum yang mencoreng nama baik profesi. Ini adalah kegagalan sistemik pengawasan di titik paling kritis: penerbangan internasional. Seorang pilot yang bertanggung jawab atas ratusan nyawa penumpang bisa berpesta kokain dan metamfetamin, lalu membawa 26 kilogram narkoba menembus bandara utama Indonesia. Jika Bea Cukai tidak menangkapnya, apa yang akan terjadi? Ini bukan pertanyaan retoris; ini adalah tamparan bagi kita semua yang masih percaya bahwa protokol keselamatan adalah tembok yang kokoh. Tembok itu, ternyata, memiliki celah seukuran koper penuh ekstasi.

Kemudian kita melirik ke Timur Tengah. AS dan Iran kembali saling serang, tanker AS terbakar di Mesir, dan China mengirimkan 400 peluncur rudal portabel ke Iran. Eskalasi ini terjadi setelah jeda lima hari—seolah-olah mereka sedang bergilir menarik pelatuk. Sementara itu, China juga mengirimkan investor hortikultura ke Indonesia untuk membangun rantai pasok buah premium. Kita membuka pintu bagi durian dan manggis China, tapi apakah kita juga membuka mata terhadap senjata mereka yang mengalir ke kawasan konflik? Ini bukan soal memilih kawan atau lawan. Ini soal kesadaran bahwa ekonomi dan geopolitik adalah dua sisi koin yang sama, dan kita sering kali terlalu fokus pada kilau koinnya.

Di tengah semua itu, ada kabar yang menggembirakan: Thinking Machines meluncurkan Inkling-Small, model AI open source dengan 276 miliar parameter yang hanya mengaktifkan 12 miliar per token. Efisien, murah, dan terbuka. Ini mungkin salah satu penyejuk di tengah panasnya berita buruk. Tapi mari kita jujur: apa arti kemajuan teknologi jika di sebelahnya seorang pria dengan mudah mengayunkan palu ke kepala kekasihnya sendiri hanya karena pesan WhatsApp? Apa arti efisiensi neuron buatan jika neuron manusia kita sendiri sedang sekarat dalam kebodohan emosional? Teknologi bisa menjadi penyelamat, tetapi ia juga bisa menjadi topeng yang menutupi wajah kita yang sedang berdarah.

Mari kita bicara tentang hal yang tidak nyaman: kita sedang kehilangan empati kolektif. Ketika wacana publik terfragmentasi menjadi viral-viral semu—Ben Affleck memenangkan satu juta dolar untuk amal, turis di wahana rumah hantu meninggal dunia, atau remaja profesor yang memecahkan rekor—kita seperti kerumunan yang menonton kembang api di atas lautan api. Kita memilih tontonan yang menghibur, bukan tontonan yang menuntut tanggung jawab moral. Kita lebih nyaman membicarakan rekor profesor termuda daripada membicarakan mengapa seorang pilot bisa membawa narkoba ke dalam pesawat, atau mengapa sembilan orang harus mati hanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Fenomena ini tidak unik di Indonesia. Singapura, yang selalu dipuji sebagai negara efisien, melaporkan pertumbuhan tenaga kerja 19 kuartal beruntun—tapi PHK juga ikut meningkat. Semakin banyak orang bekerja, semakin banyak pula yang diberhentikan. Ini adalah paradoks kapitalisme modern: angka-angka besar di atas kertas, kecemasan besar di bawah permukaan. Kita merayakan pertumbuhan sebagai indikator kebenaran, padahal ia mungkin hanyalah ukuran bagaimana kita mendistribusikan ketidakpastian.

Lalu ada keputusan MK yang mengabulkan sebagian gugatan soal anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tak lagi boleh masuk pos pendidikan. Tapi penundaannya hingga 2028 membuat putusan ini terasa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ini kemenangan advokasi; di sisi lain, ini hanyalah jangka waktu yang memberikan napas bagi praktik yang sama untuk terus berlanjut. Saya melihat ini sebagai bukti bahwa perubahan sejati tidak pernah datang dari keputusan pengadilan semata, melainkan dari tekanan publik yang terus-menerus. Kita belum sampai di sana.

Maka, ke mana arah ini melangkah? Saya khawatir, kita sedang menuju masyarakat yang semakin pandai dalam hal-hal yang tidak terlalu penting. Kita akan semakin terpukau pada rekor-rekor individual yang menakjubkan, sementara fondasi sosial kita retak oleh kekerasan, ketimpangan, dan kebodohan sistemik. Tapi saya juga melihat secercah harapan. Model AI open source yang efisien mengajarkan bahwa transparansi dan keberbagian masih mungkin. Keberanian Anita Fam, yang memimpin layanan sosial Singapura selama delapan tahun dengan pendekatan berbasis manusia, mengajarkan bahwa kepemimpinan yang empatik itu nyata.

Kita belum kalah. Tapi jika kita terus menutup mata pada puing-puing di sekitar kita, kita akan menjadi generasi yang bertepuk tangan untuk prestasi, sambil diam-diam menangisi masa depan yang kita biarkan hancur. Pilihan ada di tangan kita: apakah kita ingin hidup sebagai penonton yang terhibur, atau sebagai warga yang terjaga? Menurut saya, sudah waktunya kita menurunkan tepuk tangan, dan mulai berbenah.

Mengapa Ini Penting

Perspektif ini penting karena menantang pembaca untuk keluar dari pusaran berita-viral yang memecah perhatian, dan menyadari pola sistemik di balik peristiwa yang tampak acak. Dengan melihat keterhubungan antara kasus narkoba, kekerasan domestik, konflik geopolitik, dan kebijakan pendidikan, pembaca diajak membangun kesadaran kritis terhadap struktur yang sedang runtuh. Proyeksinya: jika empati dan pengawasan publik tidak diperkuat, krisis akan terus meningkat, sementara kita terlena pada narasi kesuksesan semu.

Sumber Asli
Redaksi
Tanggal
31 Juli 2026
Waktu Baca
6 menit