Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan hubungan komunikasinya dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei tidak hanya berlangsung setiap hari, melainkan semakin intens seiring berjalannya waktu. Pernyataan ini disampaikannya dalam pidato memperingati Hari Industri dan Pertambangan Nasional di Teheran, Selasa (21/7), menjadi respons langsung atas spekulasi kematian pemimpin tertinggi yang digulirkan Presiden AS Donald Trump beberapa hari sebelumnya.
Trump telah menyatakan keyakinan 90 persen bahwa Mojtaba sudah meninggal dunia, merujuk pada ketidakhadiran publik figur tersebut sejak menjabat. Pezeshkian membantah narasi itu dengan tegas: "Kini, berkat komunikasi yang lebih intens dan akses yang lebih luas kepada pemimpin kita tercinta, seluruh langkah sudah diatur berdasarkan arahan beliau." Ia menambahkan bahwa rakyat Iran membutuhkan dukungan Mojtaba untuk terus bergerak maju dengan penuh kekuatan.
Klaim Trump tidak muncul dari kekosongan. Sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba memang belum pernah menunjukkan wajahnya di hadapan publik. Semua kebijakan dan fatwa disampaikan melalui tulisan di media sosial atau dibacakan presenter televisi negara. Pola komunikasi tertutup ini menciptakan ruang spekulasi yang dimanfaatkan Washington sebagai bagian dari perang psikologis.
Eskalasi militer antara Tehran dan Washington telah memasuki fase yang para analis sebut sebagai "perang skala penuh". Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan AS menggempur pertahanan Iran di Selat Hormuz serta sejumlah infrastruktur sipil. Serangan paling krusial terjadi di Provinsi Hormozgan, di mana enam jembatan strategis dihancurkan — termasuk jalur vital yang menghubungkan Bandar Abbas ke Lar dan Rudan, arteri logistik militer sekaligus perekonomian.
Iran tidak tinggal diam. Balasan dilancarkan ke pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Arab Teluk, serta serangan rudal ke armada AS di Laut Arab dan Teluk Oman. Pezeshkian sendiri mengakui konflik ini sudah melampaui pertukaran rudal konvensional. "Perang ini bukan cuma soal rudal, tapi menyasar perekonomian dan mata pencaharian rakyat Iran," ujarnya pada kesempatan terpisah, mengakui dampak sistemik yang dirasakan masyarakat biasa.
Konteks geopolitik di balik eskalasi ini kompleks. AS berusaha melumpuhkan kemampuan Iran menutup Selat Hormuz, lewat mana 20 persen pasokan minyak dunia mengalir. Penghancuran jembatan-jembatan di Hormozgan bukan hanya taktik militer, tapi strategi ekonomik untuk memutus lini pasokan internal Iran. Di sisi lain, Tehran menggunakan jaringan proksi dan kemampuan rudal presisi untuk menaikkan biaya politik bagi Washington di tahun pemilu AS.
Bagi Indonesia, meskipun geografis terpencil, dampak tidak bisa diabaikan. Kestabilan Selat Hormuz langsung memengaruhi harga energi global. Indonesia sebagai impor neto minyak dan gas rentan terhadap kejut harga. Kementerian ESDM telah memantau pasokan darurat, namun perang berkepanjangan berisiko mendorong inflasi impor yang merambah ke bahan baku industri dan transportasi domestik.
Di sisi keamanan, eskalasi Timur Tengah memaksa perhatian diplomatik global ke sana, berpotensi mengurangi bandwidth multilateral untuk isu-isu Asia Pasifik seperti Maritim Selatan Tiongkok. Indonesia yang memimpin ASEAN 2023 harus waspada: ketegangan AS-Iran bisa jadi preseden bagi kekuatan besar lain untuk menyelesaikan sengketa lewat kekuatan, bukan dialog.
Ahud geopolitik Universitas Indonesia, Dewi Fortuna Anwar, menilai klaim Pezeshkian sebagai upaya menguatkan legitimasi internal di tengah krisis. "Komunikasi harian dengan pemimpin tertinggi diframingkan sebagai bukti kontinuitas kepemimpinan. Ini sinyal ke elite militer IRGC dan pasar domestik bahwa rantai komando utuh," katanya saat dihubungi. Ia menambahkan, ketiadaan bukti visual Mojtaba tetap menjadi kelemahan narasi Tehran.
Sementara itu, analis keamanan regional dari CSIS Jakarta, Yohanes Sulaiman, menyoroti asimetri informasi. "Trump bermain pada kelemahan transparansi Iran. Namun klaim 90 persen tanpa bukti forensik juga berbahaya — jika ternyata Mojtaba hidup, kredibilitas AS rusak. Ini perang narasi sebesar perang fisik," ujarnya.
Langkah selanjutnya akan ditentukan oleh apakah Tehran memutuskan mempertunjukkan Mojtaba secara publik — risiko keamanan tinggi — atau terus mengandalkan komunikasi tersier. Di medan perang, perhatian beralih ke apakah AS akan memperluas target ke fasilitas nuklir Iran, atau Tehran akan mengaktifkan proksi di Irak, Suriah, dan Yaman untuk membuka front kedua. Untuk Indonesia, diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan minyak strategis (SPR) jadi urgensitas yang tak bisa ditunda.