Piala Dunia 2026 resmi berakhir dengan Spanyol menjuarai turnamen setelah mengalahkan Argentina 1-0 di final. Namun, lebih dari sekadar pesta juara, ajang selama 39 hari di Amerika Serikat ini meninggalkan banyak cerita—dari kemeriahan gol hingga kontroversi yang mencoreng.
Sejak awal, gelaran ini dibayangi kritik. Kebijakan imigrasi AS yang ketat membuat sebagian suporter dari negara tertentu tidak bisa hadir. Harga tiket yang tinggi juga menyulitkan penggemar biasa. Belum lagi kekhawatiran soal transportasi dan keamanan.
Begitu peluit dibunyikan, perhatian mulai terfokus ke lapangan. Rata-rata 2,96 gol per pertandingan menjadi yang tertinggi dalam lebih dari lima dekade sejarah Piala Dunia. Taktik ofensif yang berani dihargai, sedangkan pendekatan defensif dihukum. Kegagalan Inggris saat beralih ke lima bek melawan Argentina menjadi contoh nyata.
Laga-laga seru pun tercipta. Inggris dan Prancis beradu gol hingga 6-4 di perebutan tempat ketiga. Cape Verde, tim debutan, memberi perlawanan sengit hingga perpanjangan waktu saat berhadapan dengan Argentina. Tuan rumah Amerika Serikat juga tampil atraktif saat membungkam Paraguay 4-1 di hadapan pendukung sendiri.
Di luar hasil, turnamen ini melahirkan bintang-bintang baru. Penyerang Norwegia Erling Haaland menjadi pusat perhatian dengan kepribadian unik dan interaksi aktif di media sosial. Lagu 'Haaland' dan meme AI membuatnya dikenal bahkan di luar penggemar sepak bola.
Namun, kisah paling menginspirasi datang dari Vozinha, kiper Cape Verde yang berusia 40 tahun dan tanpa klub saat turnamen dimulai. Ia tampil heroik, termasuk saat membawa negaranya menahan imbang juara dunia Spanyol. Cape Verde menjadi negara terkecil yang berhasil lolos ke fase gugur. Pengikut Instagram Vozinha melesat dari 50.000 menjadi 29,4 juta.
Format baru 48 tim yang sempat diragukan justru membawa dampak positif. Kualitas pertandingan tidak menurun, dan negara-negara kecil seperti Curacao pun mampu bersaing. Sistem lolosnya delapan tim peringkat ketiga terbaik menambah dramatisasi di laga terakhir grup.
Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger, menyebut perluasan ini sebagai 'keputusan tepat'. 'Kesenjangan antara tim tradisional dengan negara lain sudah menyempit, hasilnya sesuai harapan,' ujarnya.
Namun, kontroversi tetap tidak bisa dihindari. Keputusan FIFA membatalkan skorsing striker AS Folarin Balogun setelah Presiden Donald Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino menuai kecaman. Intervensi politik ini membuat kredibilitas FIFA kembali dipertanyakan.
Bagi penggemar Indonesia, Piala Dunia 2026 menjadi tontonan yang dinanti. Kisah Vozinha bisa menjadi inspirasi bagi pesepak bola Tanah Air yang berasal dari daerah tertinggal. Format 48 tim juga membuka asa bagi Indonesia untuk suatu hari bisa tampil di ajang terbesar ini. Namun, kejadian Balogun mengingatkan pentingnya menjaga independensi federasi sepak bola.
Ke depan, FIFA dipastikan akan mempertahankan format 48 tim. Persiapan menuju Piala Dunia 2030 yang digelar di tiga benua sudah dimulai. Masalah transparansi dan batasan intervensi politik menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Meski diwarnai kekurangan, Piala Dunia 2026 tetap menyuguhkan hiburan berkualitas. Gol melimpah, kejutan, dan kisah underdog membuat turnamen ini pantas dikenang. Setidaknya, untuk satu bulan, sepak bola menyatukan dunia.