Piala Dunia 2030 akan mencatat sejarah sebagai turnamen pertama yang diselenggarakan di enam negara sekaligus melintasi tiga benua. FIFA secara resmi menetapkan Spanyol, Portugal, dan Maroko sebagai tuan rumah utama, sementara Uruguay, Argentina, dan Paraguay masing-masing akan menggelar satu pertandingan pembukaan sebagai bagian dari perayaan seratus tahun Piala Dunia pertama di Montevideo, 1930.
Jadwal yang diusulkan FIFA menempatkan pertandingan peringatan di Amerika Selatan pada 8 dan 9 Juni 2030, sebelum turnamen resmi bermula di Eropa dan Afrika pada 13 dan 14 Juni. Final diperkirakan digelar 21 Juli, meski FIFA belum merilis kalender lengkap. Format unik ini mengharuskan tim yang bermain di Amerika Selatan mendapat waktu tambahan untuk perjalanan, istirahat, dan persiapan sebelum lanjutan fase grup.
Keputusan ini lahir dari kompromi politik dan sejarah. Uruguay dipilih sebagai tuan rumah pertandingan peringatan karena menggelar Piala Dunia perdana 1930 dan menjadi juaranya. Argentina mendapat porsi serupa sebagai finalis kehilangan edisi pertama, sedangkan Paraguay diakui sebagai markas CONMEBOL — konfederasi benua satu-satunya yang ada saat itu. Ketiga negara tersebut bersama Spanyol, Portugal, dan Maroko otomatis lolos ke babak final, menyisakan 42 tiket untuk kualifikasi benua.
Sejarah berputar penuh. Pada 1924 dan 1928, Uruguay mendominasi turnamen sepak bola Olimpiade di Paris dan Amsterdam, mengalahkan Swiss dan Argentina berurutan. Keberhasilan itu meyakinkan FIFA bahwa turnamen nasional mandiri layak dibuat. Mei 1928, FIFA menyetujui rencana Piala Dunia dan memilih Uruguay sebagai tuan rumah, tepat menyamai peringatan kemerdekaan ke-100 negara itu. Edisi pertama hanya diikuti 13 tim, dengan beberapa negara Eropa berlayar berhari-hari ke Montevideo.
Ekspansi jadi 48 tim — format yang perdana diterapkan di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara — akan dipertahankan untuk 2030. Namun, Presiden FIFA Gianni Infantino tidak menutup kemungkinan perluasan jadi 64 tim. Dalam wawancara dengan media Swiss Bluewin, ia menyebut format 48 tim "sukses besar" karena memberi peluang lebih banyak negara dan mengembangkan sepak bola global. Ia mengutip performa tim-tim kecil di 2026 sebagai bukti manfaat partisipasi luas.
Bagi sepak bola Indonesia, format 48 tim ini membuka harapan nyata. Timnas Garuda yang pernah gagal lolos ke Piala Dunia 2026 lewat play-off interkontinental kini punya peluang lebih lebar di 2030. Alokasi slot AFC naik dari 4,5 jadi 8,5 tiket — kenaikan signifikan yang bisa dimanfaatkan jika pengembangan pemain muda dan liga domestik berlanjut konsisten. PSSI harus memetakan jalur kualifikasi sejak dini, mengingat kompetisi di Asia semakin ketat dengan bangkitnya Arab Saudi, Qatar, dan Uzbekistan.
Di sisi komersial, turnamen multi-negara ini menciptakan peluang sponsor dan broadcaster baru. Jaringan streaming dan platform digital Indonesia bisa bersaing menggaet hak siar, mengingat minat lokal terhadap Piala Dunia selalu tinggi. Namun, tantangan jadwal — pertandingan di tiga zona waktu berbeda — menuntut inovasi penayangan agar ramah penonton Indonesia. Final pukul 21 Juli kemungkinan besar terjadah malam atau dini hari WIB.
Infantino menegaskan proposal 64 tim "akan dievaluasi dan dibahas" di forum FIFA mendatang. Jika terealisasi, ini akan mengubah lanskap kualifikasi global dan komersialisasi turnamen. Para kritik menilai ekspansi berlebihan berisiko melonggarkan kualitas kompetisi dan memperbeban kalender pemain klub. Sementara pendukung berargumen inklusivitas justru memperkaya narasi dan basis penggemar di negara-negara berkembang.
Sementara dunia menanti 2030, FIFA sudah menatap 2034. Arab Saudi dikonfirmasi sebagai tuan rumah tunggal pada Desember 2024, setelah menjadi satu-satunya penawar. Berbeda dengan format 2030 yang tersebar, edisi 2034 akan kembali ke model sentralisasi — meski FIFA belum umumkan jadwal pasti. Keputusan ini menandakan FIFA tetap fleksibel: kadang menyebar untuk simbolisme, kadang terkonsentrasi untuk efisiensi operasional.
Bagi Indonesia, dua edisi mendatang ini menjadi uji nyata visi jangka panjang. Kualifikasi 2030 bukan hanya soal lolos, tapi membangun ekosistem yang berkelanjutan: akademi, liga, scouting, dan sains olahraga. Jika PSSI dan stakeholder sepak bola domestik mampu memanfaatkan momentum ekspansi slot, mimpi debut Piala Dunia ke-3 bagi Indonesia — setelah 1938 dan 2026 (play-off) — bisa jadi realistis. Waktu tersisa lima tahun; setiap keputusan hari ini menentukan narasi 2030.