Pembalap Slovenia Tadej Pogacar membalas dendam kekalahannya dua tahun lalu dari Jonas Vingegaard dengan memenangkan etape 10 Tour de France di Le Lioran, Prancis, pada Selasa (14 Juli). Ia menyelesaikan etape tersebut dengan serangan solo yang kuat, meninggalkan pesaing terdekatnya sekitar 30 detik di belakang, sementara pembalap Denmark Vingegaard finis ketujuh, 44 detik di belakang. Kemenangan ini menandai kemenangan ketiga Pogacar pada Tour tahun ini dan kemenangan ke-24 dalam kariernya di ajang bergengsi tersebut.
Pogacar melancarkan serangannya saat tersisa 16 kilometer lagi, memanfaatkan kondisi lintasan yang menanjak di Le Lioran. Ia tampil dominan sejak awal, mengambil inisiatif sejak awal etape. Timnya, UAE Team Emirates-XRG, telah merencanakan serangan ini jauh-jauh hari, dan Pogacar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Margin kemenangannya yang jelas menunjukkan bahwa ia telah pulih dari kekecewaannya dua tahun lalu, ketika ia harus puas finis kedua di belakang Vingegaard di tempat yang sama.
Kemenangan ini merupakan bagian dari pola kebangkitan Pogacar di medan yang sama. Tahun lalu, ia meraih kemenangan di Hautacam, dan ia juga meraih waktu berharga di Col de la Loze setelah mengalami kekecewaan sebelumnya di tanjakan tersebut. Strategi UAE Team Emirates-XRG yang fokus pada Pogacar sejak awal etape mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuan pembalapnya. Hasilnya tidak hanya memperkuat posisi Pogacar di klasemen umum, tetapi juga meningkatkan semangat seluruh tim.
Bagi pembaca Indonesia, prestasi Pogacar mengingatkan pada perkembangan olahraga sepeda di dalam negeri. Meskipun Tour de France bukan acara yang disiarkan secara rutin di televisi lokal, komunitas pecinta sepeda di Indonesia terus tumbuh, terutama dengan meningkatnya minat pada balap sepeda gunung dan jalan raya. Teknologi yang digunakan dalam balap elit, seperti sistem pemantauan telemetry dan data performa, semakin banyak diadopsi oleh atlet dan penggemar di Indonesia, yang mulai menggunakan aplikasi dan perangkat wearables untuk meningkatkan performa.
"Ingat dua tahun lalu, kamu marah," kata Pogacar kepada Mauro Gianetti, bos UAE Team Emirates-XRG, sambil tersenyum. “Kami telah merencanakan etape ini jauh-jauh hari,” aku Pogacar beberapa menit kemudian. “Aku juga memikirkan tentang itu. Dua tahun lalu aku finis kedua di sini, itu bukan hasil yang buruk, apalagi melawan Jonas (Vingegaard)."
Andrej Hauptman, direktur olahraga UAE, menambahkan, “Kami semua tahu Jonas (Vingegaard) adalah juara besar, dan dikalahkan olehnya bukan hal terburuk. Tapi hari ini, Tadej (Pogacar) menang lagi, ini baik untuk moral.”
Vingegaard, yang telah dua kali memenangkan Tour de France untuk Visma-Lease a Bike, tetap optimis menjelang etape kesembilan belas. “Kakiku semakin membaik, dan saya menantikan tanjakan yang lebih panjang,” katanya, merujuk pada tantangan berikutnya di Vosges pada hari Sabtu. Etape mendatang akan menjadi ujian nyata bagi klasemen teratas, dan Pogacar akan berharap untuk mempertahankan performanya.
Bagi penggemar sepeda di Indonesia, kemenangan ini memberikan inspirasi bahwa persiapan yang matang dan determinasi dapat mengubah kekecewaan menjadi kesuksesan. Ini juga menunjukkan bahwa teknologi dan analisis data, yang kini lebih mudah diakses, dapat membantu pembalap dari berbagai tingkat untuk meningkatkan performa. Dengan semakin banyaknya acara bersepeda di Indonesia, mulai dari acara jalan raya hingga gunung, cerita kemenangan Pogacar di Le Lioran dapat memotivasi lebih banyak atlet lokal untuk mengejar mimpi mereka di panggung internasional.
Ke depan, Tour de France akan memasuki etape-etape yang lebih menantang, dan persaingan antara Pogacar dan Vingegaard kemungkinan akan semakin ketat. Bagi Indonesia, ini berarti peluang untuk lebih banyak liputan olahraga sepeda, potensi kolaborasi antara atlet lokal dan pakar internasional, serta peningkatan minat pada teknologi yang dapat meningkatkan performa bersepeda. Seiring dengan perkembangan olahraga ini, semangat pantang menyerah yang ditunjukkan oleh Pogacar di Le Lioran akan terus menginspirasi generasi atlet berikutnya, baik di Eropa maupun di kepulauan Nusantara.