Gaya Hidup

Pola Makan, Gerak, dan Tidur Lebih Efektif dari Minuman Penambah Mood

Ringkasan

  • Ahli gizi menegaskan pola makan teratur, gerak rutin, dan tidur cukup cara efektif jaga mood, bukan minuman penambah suasana hati yang manfaatnya belum terbukti.
  • Tren produk fungsional memicu peringatan ini.

Keluarga minuman yang dipasarkan sebagai penambah suasana hati semakin menghiasi rak toko dan platform belanja daring. Berbagai merek menawarkan formula dengan klaim dapat meredakan stres serta meningkatkan fokus dalam waktu singkat.

Namun, para pakar gizi menegaskan bahwa tidak ada jaminan manfaat tersebut konsisten bagi setiap individu. Ahli menyarankan masyarakat kembali pada kebiasaan dasar yang telah teruji secara ilmiah untuk menjaga kestabilan emosi dan energi harian.

Dilansir dari publikasi EatingWell, tren minuman fungsional ini memang mendapat daya tarik karena kemudahan konsumsi. Beberapa produk mengandung senyawa seperti L-theanine dan ashwagandha yang dalam studi terpisah menunjukkan potensi menenangkan sistem saraf.

Permasalahannya, hasil penelitian tersebut biasanya diperoleh dari eksperimen dengan dosis tertentu pada bahan tunggal. Komposisi akhir di dalam kemasan minuman komersial belum tentu mencerminkan kondisi uji laboratorium, apalagi dipengaruhi oleh interaksi bahan lain dan cara produksi.

Oleh karena itu, mengandalkan sebotol minuman untuk mengatasi kecemasan atau suasana hati yang berfluktuasi dianggap terlalu menyederhanakan masalah kesehatan mental. Pakar kesehatan menekankan bahwa mood merupakan hasil interaksi biologis, psikologis, dan gaya hidup jangka panjang.

Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental mulai tumbuh, terutama di kalangan pekerja urban yang menghadapi tekanan target dan jam kerja panjang. Minuman herbal tradisional seperti jamu sudah lama hadir, namun edukasi tentang pola makan seimbang sering kalah oleh promosi produk instan yang menjanjikan solusi cepat.

Survei informal menunjukkan banyak masyarakat perkotaan memilih kopi atau minuman energi untuk tetap terjaga, padahal konsumsi kafein berlebih justru memicu gelisah dan gangguan tidur. Padahal, penelitian menunjukkan tidur di bawah tujuh jam per malam berkorelasi dengan penurunan fungsi kognitif dan peningkatan iritabilitas.

Dampaknya meluas ke produktivitas nasional. Jika pekerja terus mencari stimulan sesaat tanpa memperbaiki kebiasaan dasar, beban sistem kesehatan akibat stres kronis diprediksi akan meningkat. Pemerintah dan pelaku industri kesehatan perlu mengarahkan kampanye pada perilaku terukur seperti aktivitas fisik rutin.

Emily Van Eck, ahli gizi, menyoroti aspek makan teratur yang kerap diabaikan. “Mengonsumsi makanan secara konsisten sepanjang hari membantu menjaga mood dan tingkat energi,” ucapnya, seraya menyarankan kombinasi karbohidrat dengan protein serta lemak sehat di setiap waktu makan.

Rekomendasi serupa datang dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) yang menganjurkan aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150 menit per pekan disertai latihan kekuatan dua hari. Tidur cukup tujuh jam untuk orang dewasa menjadi kunci mereduksi stres dan memelihara kesehatan mental.

Pakar juga mengingatkan batasan konsumsi kafein dan alkohol. Terlalu banyak kafein memicu kecemasan dan mengganggu tidur, sementara alkohol memberi relaksasi semu namun merusak kualitas istirahat jangka panjang. Minuman mood-boosting tetap boleh dinikmati sebagai pengganti alkohol, asalkan disadari bahwa efeknya mungkin berasal dari momen istirahat, bukan kandungannya.

Ke depan, industri minuman fungsional dipastikan akan terus berkembang seiring minat konsumen pada kesejahteraan diri. Namun, pendekatan holistik melalui nutrisi, gerak, dan tidur harus tetap menjadi fondasi. Edukasi publik yang memadukan bukti sains dan kearifan lokal menjadi langkah strategis bagi masyarakat Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Masyarakat Indonesia menghabiskan banyak biaya untuk produk kesehatan instan, padahal intervensi gaya hidup dasar dapat menekan angka depresi dan kecemasan yang diperkirakan meningkat pasca-pandemi. Ketimpangan akses edukasi gizi di daerah membuat pesan ini krusial agar tidak terjadi stigmatisasi terhadap mereka yang tidak mampu membeli minuman premium. Ke depan, kolaborasi antara kementerian kesehatan, komunitas tech-health, dan UMKM jamu perlu dirancang untuk menguatkan literasi kesehatan mental berbasis bukti.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit