Jelang perayaan Golden Week yang dimulai Kamis (1/10), jutaan pekerja di China justru mengeluhkan kelelahan kronis. Alih-alih menyambut libur panjang dengan antusiasme, media sosial Weibo dibanjiri kritik terhadap sistem 'tiaoxiu', sebuah kebijakan pemerintah yang mewajibkan pekerja mengganti hari libur dengan bekerja di akhir pekan sebelum atau sesudah periode libur nasional.
Sistem tiaoxiu dirancang untuk menciptakan durasi libur yang panjang dan tidak terputus bagi masyarakat. Namun, kebijakan ini memaksa pekerja untuk bekerja pada hari Minggu, 20 September, sebagai kompensasi atas hari kerja yang jatuh di tengah periode libur Golden Week. Tidak berhenti di situ, mereka juga harus kembali bekerja pada Sabtu, 10 Oktober, untuk mengganti sisa hari kerja lainnya.
Bagi banyak pekerja, praktik ini terasa seperti ilusi waktu istirahat. Seorang pengguna Weibo dengan akun dokter Xu Chao menguraikan bahwa libur tujuh hari Golden Week sebenarnya hanya terdiri dari tiga hari libur resmi, dua hari akhir pekan biasa, dan dua hari yang dipinjam dari akhir pekan lainnya. Tanpa sistem tersebut, pekerja sebenarnya hanya kehilangan dua hari libur, namun harus menukar rutinitas mereka dengan jadwal kerja yang kacau.
Ketidakpuasan ini memicu perdebatan mengenai motif sebenarnya di balik kebijakan tersebut. Banyak warganet meyakini bahwa tiaoxiu bukanlah instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, melainkan strategi pemerintah untuk memaksa masyarakat berlibur demi menggenjot konsumsi domestik. Tagar yang mengkritik kebijakan ini bahkan sempat dibatasi aksesnya oleh platform media sosial, menunjukkan betapa sensitifnya isu keseimbangan kerja dan kehidupan di sana.
Situasi ekonomi China yang tengah menghadapi tekanan deflasi dan kelesuan sektor properti membuat pemerintah sangat bergantung pada daya beli masyarakat selama libur panjang. Data menunjukkan bahwa meski volume perjalanan meningkat pada Golden Week tahun lalu, rata-rata pengeluaran per perjalanan justru merosot ke level terendah dalam tiga tahun terakhir di angka 911,04 yuan.
Di sisi lain, sektor transportasi tetap optimis menghadapi lonjakan mobilitas. Beijing Capital International Airport diprediksi melayani lebih dari 1,66 juta penumpang selama periode libur ini. Destinasi internasional seperti Singapura, Bangkok, hingga Bali tetap menjadi primadona bagi wisatawan China, mencerminkan adanya segmen masyarakat yang tetap memiliki daya beli tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini menawarkan perspektif menarik mengenai kebijakan cuti bersama. Di Indonesia, mekanisme cuti bersama sering kali diputuskan secara mendadak oleh pemerintah untuk memicu pergerakan ekonomi di daerah. Meski tidak seketat sistem tiaoxiu yang mewajibkan 'penggantian' hari kerja di akhir pekan, konsep memanipulasi kalender demi tujuan ekonomi tetap menjadi pisau bermata dua.
Industri pariwisata Indonesia, yang sangat bergantung pada kunjungan turis mancanegara, tentu memantau tren libur di China dengan saksama. Namun, perlu dicatat bahwa tekanan kelelahan yang dialami pekerja China bisa menjadi indikator bahwa pertumbuhan konsumsi tidak selamanya berbanding lurus dengan kebahagiaan atau produktivitas pekerja dalam jangka panjang.
Para pengamat menilai bahwa pemerintah China kini berada di persimpangan jalan. Mereka dituntut untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui konsumsi tanpa harus mengorbankan kesehatan mental pekerja yang kian tergerus oleh ritme kerja yang tidak alami. Tanpa adanya evaluasi terhadap sistem tiaoxiu, gesekan antara keinginan masyarakat untuk beristirahat dan tuntutan pemerintah untuk belanja akan terus berlanjut.
Ke depan, tren mobilitas masyarakat diprediksi akan semakin bergeser ke arah pengalaman unik daripada sekadar belanja barang konsumsi. Jika sistem libur ini tidak diperbaiki agar lebih manusiawi, bukan tidak mungkin produktivitas jangka panjang justru akan menurun akibat tingginya tingkat stres dan kelelahan di tempat kerja.
Harapan akan libur yang ideal kini menjadi komoditas yang mahal bagi para pekerja di China. Sementara pemerintah berupaya menstabilkan ekonomi, suara-suara di jagat maya menjadi pengingat bahwa kesejahteraan manusia tidak bisa sepenuhnya ditukar dengan angka pertumbuhan ekonomi yang dipaksakan melalui manipulasi hari libur.