Pop Mart secara resmi membuka toko barunya yang berdua lantai di Resorts World Sentosa, Singapura, pada hari Kamis, 30 Juli 2026. Lantai dua gedung tersebut menjadi rumah bagi Pop Bakery, konsep kafe dessert pertama di Asia Tenggara yang sepenuhnya mengusung karakter-karakter ikonik dari brand hobi populer tersebut. Kehadiran kafe ini menandai ekspansi strategis Pop Mart dari sekadar penjual blind box ke pengalaman kuliner imersif.
Kafe ini menawarkan segudang menu eksklusif yang dirancang khusus untuk pasar Singapura. Di antara andalannya ada Twinkle Twinkle Coconut Mousse yang dijual Rp 215.000 (S$18) dengan dua varian: rasa asam segar dengan isian nanas dan popping boba passionfruit, serta versi manis dengan boba dan kacang merah. Keduanya disajikan dalam cangkang kelapa komestibel terbuat dari cokelat. Menu khas Singapura lainnya adalah Pucky Xiao Long Bao Dessert yang menghadirkan panna cotta susu kedelai dan es krim, lengkap dengan stik biskuit sebagai "sumpit" dan saus cokelat susu untuk dicelup.
Tak ketinggalan, Pop Bakery juga menjual cemasan kemasan yang siap dibawa pulang. Labubu Butter Cookies menjadi bintang utama dengan harga Rp 385.000 (S$32) per kotak berisi assortment kue mentega, cokelat, dan kelapa berbentuk maskot lucu itu. Crybaby Strawberry White Chocolate ditawarkan Rp 215.000 (S$18). Untuk yang ingin makan di tempat, tersedia Twinkle Twinkle Dreamy Banana Pastry (Rp 190.000) dengan dark chocolate whipped ganache dan pisang karamel, serta Twinkle Twinkle Twin Popsicles (Rp 180.000).
Zhang Xiaoyang, Kepala Pop Bakery, menjelaskan alasan Singapura dipilih sebagai gerbang pertama kafe ini di Asia Tenggara. Menurutnya, Singapura merupakan hub penting di Asia-Pasifik dan pasar paling internasional di wilayah ini. Sebagai destinasi wisata global, kota negara itu memungkinkan Pop Mart menjangkau tidak hanya konsumen lokal tetapi juga pengunjung dari seluruh dunia. Pop Mart sendiri telah memasuki Singapura sejak 2021 dan merayakan ulang tahun keenam di tahun ini.
Desain interior Pop Bakery mengusung estetika bersih dengan nuansa beige lembut. Tempat duduk berbantal berwarna terang dipadukan dengan instalasi karakter Pop Mart di berbagai sudut, termasuk fixture bertema Molly. Rak khusus menampilkan produk kemasan siap beli, menciptakan pengalaman belanja dan makan yang menyatu. Kafe beroperasi pukul 11.00–21.30 Senin–Kamis, dan 10.00–21.30 Jumat–Minggu.
Sistem kunjungan menerapkan aturan ketat: makan di tempat wajib reservasi melalui situs web resmi dan dibatasi maksimal 60 menit per meja. Kebijakan ini dirancang untuk mengelola antrean panjang yang diprediksi terjadi, mengingat popularitas Pop Mart yang melonjak tajam belakangan ini. Pengunjung tetap bisa memilih opsi takeaway untuk produk kemasan tanpa perlu reservasi.
Sebagai daya tarik tambahan, Pop Bakery mengadakan sesi meet-and-greet dengan karakter Twinkle Twinkle mulai hari pembukaan hingga Senin. Sesi berlangsung tiga kali sehari: 14.00–15.00, 16.00–17.00, dan 18.00–19.00. Syaratnya, pengunjung harus memenuhi minimum belanja Rp 480.000 (S$40) per orang atau Rp 960.000 (S$80) per meja dalam satu transaksi. Strategi ini mendorong pembelian menu premium sekaligus menciptakan momen berbagi di media sosial.
Fenomena Pop Mart di Indonesia sendiri tak kalah panas. Blind box Labubu, Dimoo, dan Molly rutin sold out dalam hitungan menit di e-commerce lokal, dengan harga pasar kedua kali lipat dari harga resmi. Komunitas kolektor di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan sangat aktif menggelar pertukaran dan meetup. Hadirnya Pop Bakery di Singapura — yang hanya 1,5 jam penerbangan dari Jakarta — menciptakan peluang wisata kuliner baru bagi penggemar Indonesia yang sering berkunjung ke kota Merlion.
Sisi lain yang menarik adalah potensi kolaborasi lokal. Beberapa kafe di Indonesia seperti Fore Coffee Bean Brothers di Jakarta atau Ruang Kreasi di Bandung sudah bereksperimen dengan menu bertema karakter pop culture. Keberhasilan Pop Bakery di Singapura bisa jadi benchmark bagi brand lokal atau franchise internasional yang ingin mengadopsi model "retail + F&B" serupa di tanah air. Model ini mengubah toko dari sekadar titik transaksi jadi destinasi pengalaman.
Dampak ekonomi pun tak bisa diremehkan. Wisatawan Indonesia yang ke Singapura untuk beli blind box kini punya alasan tambahan untuk memperpanjang tinggal: menikmati dessert bertema karakter favorit. Resorts World Sentosa sebagai tuan rumah juga untung dari lonjakan traffic pejalan kaki. Data Kementerian Pariwisata Singapura mencatat wisatawan Indonesia masuk 10 besar pengunjung asing, dan belanja jadi salah satu aktivitas utama mereka.
Ke depan, Zhang Xiaoyang mengisyaratkan Pop Bakery tidak akan berhenti di Singapura. "Kami berkomitmen jangka panjang untuk menghadirkan pengalaman imersif yang memicu gairah dan gembira bagi konsumen berbagai demografi," ujarnya. Ekspansi ke kota-kota besar Asia Tenggara lain — termasuk kemungkinan Jakarta — tidak menutup mata. Bagi industri F&B dan retail Indonesia, ini sinyal bahwa konvergensi budaya pop, kuliner, dan ritel fisik akan jadi tren dominan tahun-tahun mendatang.