Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat proses ratifikasi Persetujuan Indonesia-Eurasia Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam pertemuan bilateral bersama Presiden Belarus, Alexandr Lukashenko, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (22/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi mendalam kepada pemerintah Belarus yang telah lebih dulu menyelesaikan proses ratifikasi perjanjian perdagangan bebas tersebut. Langkah Belarus ini dinilai sebagai dorongan positif bagi Indonesia untuk segera merampungkan tahapan domestik agar perjanjian dapat segera diimplementasikan secara efektif.
Perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan blok Eurasia yang mencakup Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgistan ini secara resmi telah ditandatangani pada 21 Desember 2025. Kerangka kerja sama ini diharapkan mampu menjadi katalisator bagi peningkatan volume perdagangan dan investasi di kawasan Eurasia bagi para pelaku usaha di tanah air.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Belarus telah memposisikan diri sebagai mitra strategis bagi Indonesia. Kedua negara sepakat untuk memperdalam kolaborasi di berbagai sektor krusial, termasuk sektor pertanian modern, manufaktur, serta pertukaran kebudayaan untuk mempererat hubungan bilateral.
Sebagai bentuk konkret dari komitmen tersebut, kedua pemimpin negara secara resmi meluncurkan 'Peta Jalan Penguatan Kerja Sama Indonesia-Belarus 2026-2030'. Peta jalan ini dirancang sebagai panduan strategis untuk memastikan hubungan kerja sama ekonomi dan teknis kedua negara berjalan secara terarah, terukur, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi kedua belah pihak selama lima tahun ke depan.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Belarus Alexandr Lukashenko menyambut baik inisiatif Indonesia dan menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra prioritas di kawasan Asia Tenggara. Lukashenko menekankan bahwa fokus utama dari kerja sama ini adalah penguatan ketahanan pangan (food security) serta kolaborasi dalam teknologi manufaktur yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi industri nasional Indonesia.