Nasional

Sentil Akademisi, Prabowo Ingatkan Bahaya Profesor yang Berpihak pada Asing

Sentil Akademisi, Prabowo Ingatkan Bahaya Profesor yang Berpihak pada Asing

Ringkasan

  • Presiden Prabowo Subianto mengkritik akademisi tanah air yang dinilai lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan nasional dalam pidatonya di Gontor, Sabtu (19/9).

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap kalangan akademisi tanah air saat menghadiri peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu (19/9). Dalam pidatonya, ia secara terbuka menyatakan keheranannya terhadap profesor atau cendekiawan Indonesia yang justru kerap membela kepentingan asing dibandingkan kepentingan nasional.

Kritik ini disampaikan Prabowo sebagai pengingat bagi generasi penerus bangsa agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi luar yang tidak sejalan dengan kedaulatan Indonesia. Ia menekankan bahwa posisi sebagai seorang intelektual seharusnya dibarengi dengan integritas yang kuat serta keberpihakan yang jelas terhadap nasib bangsa sendiri, bukan justru menjadi alat bagi pihak eksternal.

Menurut Prabowo, pendidikan tinggi yang dimiliki oleh para akademisi semestinya menjadi instrumen untuk membedah ketidakadilan, bukan malah membenarkan praktik yang merugikan rakyat. Ia menyoroti fenomena di mana ilmu pengetahuan sering kali disalahgunakan atau dipengaruhi oleh kepentingan yang tidak memiliki niat baik bagi kemandirian negara.

Latar belakang dari keresahan ini berakar pada sejarah panjang Indonesia yang pernah berada di bawah kolonialisme. Prabowo mengingatkan bahwa pengalaman pahit masa lalu harus menjadi pelajaran berharga agar Indonesia tidak kembali terjebak dalam posisi lemah yang mudah didikte oleh bangsa lain. Kekuatan nasional, menurutnya, adalah syarat mutlak agar Indonesia bisa berdaulat dan mampu membantu negara lain yang tertindas.

Dalam paparannya, ia juga menekankan pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri. Pemimpin dan generasi muda Indonesia harus memiliki keberanian untuk mengakui kelemahan internal sebelum bisa membangun kekuatan yang disegani dunia. Tanpa penguasaan pengetahuan yang mumpuni dan daya kritis yang tajam, bangsa ini akan mudah dibodohi oleh pihak-pihak yang memiliki agenda tersembunyi.

Fenomena 'profesor yang membela kepentingan asing' ini sebenarnya mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas mengenai independensi pemikiran di lingkungan kampus dan riset. Sering kali, pendanaan riset atau kerja sama internasional membawa agenda terselubung yang jika tidak disikapi dengan kritis, dapat mengikis kebijakan publik yang seharusnya pro-rakyat.

Bagi masyarakat Indonesia, pernyataan Prabowo menjadi pengingat akan pentingnya literasi kritis. Di era disrupsi informasi saat ini, kemampuan untuk menyaring mana gagasan yang membangun bangsa dan mana yang justru melemahkan kedaulatan menjadi sangat krusial. Publik diharapkan tidak lagi menelan mentah-mentah opini ahli tanpa melihat keberpihakan di baliknya.

Dampak dari pidato ini diprediksi akan memicu diskusi di lingkungan perguruan tinggi mengenai etika profesi dan tanggung jawab sosial akademisi. Ada tuntutan moral agar kaum intelektual kembali ke khitah mereka sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan, bukan sekadar pelayan bagi kepentingan korporasi atau negara asing yang tidak sejalan dengan konstitusi.

Prabowo menegaskan bahwa menjadi pintar saja tidak cukup. Integritas moral, kejujuran, dan keikhlasan harus menjadi fondasi utama. Ia mengibaratkan hal ini dengan motto pesantren yang menjunjung tinggi budi pekerti luhur, di mana seseorang yang berpura-pura jujur namun korup adalah ancaman nyata bagi masa depan negara.

Ke depannya, pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo tampaknya akan lebih menekankan pada kemandirian strategis. Langkah-langkah kebijakan yang diambil diproyeksikan akan lebih protektif terhadap kepentingan nasional, sembari terus mendorong riset dan pendidikan yang berorientasi pada pemecahan masalah domestik.

Indonesia kini berada di titik persimpangan di mana penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci. Upaya untuk mencetak generasi yang tidak mudah 'dicuci otak' oleh narasi asing akan menjadi fokus utama dalam agenda pendidikan nasional, guna memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpijak pada kepentingan rakyat banyak.

Sebagai penutup, Prabowo kembali menegaskan bahwa kekuatan nasional adalah alat untuk menciptakan keadilan global. Dengan menjadi kuat, Indonesia bukan hanya bisa menjaga diri sendiri, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia internasional yang saat ini masih penuh dengan ketimpangan dan penindasan.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan Prabowo menyoroti krisis integritas dalam dunia intelektual Indonesia yang berdampak langsung pada arah kebijakan publik. Hal ini penting bagi pembaca karena menyentuh isu kedaulatan bangsa di tengah derasnya pengaruh asing dalam pendidikan dan riset. Implikasinya adalah potensi pergeseran paradigma dalam riset nasional ke arah yang lebih protektif dan mandiri, yang menuntut akademisi untuk lebih transparan dan nasionalis dalam setiap karya ilmiahnya.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Sentil Akademisi, Prabowo Ingatkan Bahaya Profesor yang Berpihak pada Asing"?

Presiden Prabowo Subianto mengkritik akademisi tanah air yang dinilai lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan nasional dalam pidatonya di Gontor, Sabtu (19/9).

Mengapa Nasional ini penting?

Pernyataan Prabowo menyoroti krisis integritas dalam dunia intelektual Indonesia yang berdampak langsung pada arah kebijakan publik. Hal ini penting bagi pembaca karena menyentuh isu kedaulatan bangsa di tengah derasnya pengaruh asing dalam pendidikan dan riset. Implikasinya adalah potensi pergeseran paradigma dalam riset nasional ke arah yang lebih protektif dan mandiri, yang menuntut akademisi u

Sumber Asli
CNN Indonesia Nasional
Tanggal
19 September 2026
Waktu Baca
4 menit