Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, secara resmi membuka Jakarta Eco Future Festival (JEFF) 2026 di Balai Kota, Jakarta, pada Jumat. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa penyelenggaraan festival ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pengingat krusial akan tanggung jawab Jakarta sebagai kota global sekaligus pusat ekonomi nasional dalam membenahi sistem tata kelola sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Menurut Pramono, tantangan pengelolaan sampah di ibu kota merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa diselesaikan secara parsial oleh pemerintah saja. Ia menekankan perlunya pendekatan kolaboratif yang melibatkan sinergi erat antara pemerintah, pelaku dunia usaha, serta seluruh elemen masyarakat. Melalui JEFF 2026, diharapkan lahir berbagai inovasi teknologi dan solusi lingkungan yang dapat diterapkan secara masif di seluruh wilayah Jakarta.
Perubahan perilaku masyarakat menjadi poin utama yang disoroti oleh Gubernur. Pramono menilai bahwa edukasi mengenai pemilahan sampah dari sumbernya adalah fondasi paling vital. Dengan kesadaran warga yang tinggi, volume sampah yang harus berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan, yang pada akhirnya akan mendukung terciptanya ekosistem kota yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Dalam rangkaian acara tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih rekor MURI atas pembuatan eco enzyme terbanyak, yang melibatkan partisipasi lebih dari 6.336 pihak. Inisiatif ini merupakan tindak lanjut konkret dari Instruksi Gubernur yang diterbitkan sebelumnya, guna memastikan bahwa kebijakan lingkungan tidak hanya tertulis di atas kertas, tetapi juga diimplementasikan dalam gerakan nyata oleh warga.
Sebagai simbol komitmen internal, Pramono turut mencanangkan pembentukan Bank Sampah di lingkungan Balai Kota. Langkah ini diharapkan menjadi percontohan bagi instansi pemerintah lainnya serta sektor swasta untuk mulai mengelola limbah kantor secara mandiri. Pramono menegaskan bahwa ukuran keberhasilan penanganan sampah di Jakarta adalah saat residu yang diangkut ke tempat pembuangan dapat ditekan hingga di bawah 20-25 persen.
Ke depannya, Pemprov DKI Jakarta menargetkan transformasi kota global yang tidak hanya unggul dalam infrastruktur ekonomi, tetapi juga dalam aspek keberlanjutan lingkungan. JEFF 2026 diposisikan sebagai katalisator untuk memperkuat komitmen pembangunan berwawasan lingkungan. Dengan dukungan komunitas dan partisipasi aktif warga, diharapkan Jakarta dapat menjadi model kota masa depan yang mampu mengatasi krisis sampah secara sistematis dan terukur.